ER Quick Reference

ER Playbook Vol 1–3 · MVP v1.0

Fondasi IGD

Primary Survey — ABCDE

Mulai dari A, selalu dari A

HurufKomponenTindakan Kritis
AAirwayStridor/gurgling → suction, OPA/NPA. Head-tilt chin-lift (jaw thrust bila trauma). GCS ≤8 → intubasi
BBreathingHitung RR. SpO₂. Target 94–98% (PPOK: 88–92%). Bahaya: RR >30 atau <8, otot bantu napas
CCirculationNadi radialis. CRT <2 detik. 2 IV line besar. Bahaya: nadi lemah, hipotensi, akral dingin
DDisabilityGCS (E-V-M). Pupil. GDS selalu pada penurunan kesadaran. GDS <60 → D40% 2 flakon IV
EExposureBuka pakaian, cari luka tersembunyi, ukur suhu. Tutup kembali — cegah hipotermia
Red Flags: Stridor/gurgling · SpO₂ <90% + O₂ · RR >30 atau <10 · Nadi tidak teraba · GCS ≤8 · Pupil anisokor · GDS <60
Sering Salah: Anamnesis sebelum ABCDE · Percaya SpO₂ normal tanpa lihat pasien · Lupa GDS pada penurunan kesadaran

Sick vs Not Sick — 30 Detik

Baca pasien sebelum menyentuh

ParameterAmati
Cara masukMandiri, dibantu, atau diusung?
WajahAlert, bingung, atau tidak responsif?
KulitWarna dan keringat dingin
DadaGerakan simetris, otot bantu napas?
Suara napasStridor/gurgling dari jarak jauh?
Nadi radialisKuat dan reguler, atau lemah?
NOT SICK — triase biasa POTENTIALLY SICK — ABCDE ketat SICK NOW — resusitasi segera
Pasien terlalu tenang bisa = syok terkompensasi. Silent MI pada perempuan, DM, lansia sering tidak tampak sick.
Referensi: AHA BLS 2020 / RCEM 2023
Kasus Kritis Dewasa

Sesak Napas

Asma · PPOK · Edema Paru · Pneumotoraks · PE

Baca bersamaan: Work of breathing + SpO₂/RR + kemampuan bicara. Kalimat penuh = ringan · Kata per kata = berat · Bisu = darurat.
KondisiCiri KhasTemuan KunciTindakan Awal
Asma akutWheezing ekspirasi, atopiSilent chest = BERATSalbutamol neb · Steroid IV
PPOK eksaserbasiBarrel chest, pursed lip, perokokHiperkapnia, tripodO₂ titrasi 88–92% · Bronkodilator
Edema paru akutOrtopnea, PND, riwayat jantungRonki basah bilateral, frothy sputumFurosemid IV · Nitrogliserin
PneumotoraksNyeri pleuritik, sesak mendadakSuara hilang 1 sisi, hipersonorNeedle decompression (tension)
PEPleuritik, leg swelling, imobilisasiTakikardia, S1Q3T3Antikoagulan · CT angio
AnafilaksisPaparan alergen, stridor, urtikariaAngioedema, hipotensiEpinefrin IM segera
Silent chest pada asma = bukan membaik — udara tidak masuk sama sekali. O₂ PPOK: target 88–92% saja.
Referensi: GINA 2024 / BTS Guidelines

Nyeri Dada — Singkirkan yang Mematikan

STEMI · Diseksi Aorta · PE · Tension PTX · Tamponade

EKG dalam 10 menit pertama — tanpa pengecualian.
KondisiCiri KhasRed FlagTindakan Kritis
STEMI/ACSMenjalar, keringat dingin, mualST elevasi ≥1mm di 2 leadCode STEMI · Aspirin 160–320 mg kunyah
Diseksi AortaNyeri robek ke punggung, mendadakBeda TD dua lengan >20 mmHgJANGAN antikoagulan · Labetalol IV
PE MasifPleuritik, sesak, sinkopTakikardia, S1Q3T3, hipotensiAntikoagulan · Trombolisis bila masif
Tension PTXSesak mendadak, trauma/spontanSuara hilang, deviasi trakeaNeedle decompression segera
TamponadeSesak, presinkop, keganasan/TBBeck triad: hipotensi + JVP naik + suara jauhPerikardiosentesis segera
Diseksi Aorta: Singkirkan SEBELUM beri antikoagulan apapun. Nyeri tearing + beda TD dua lengan = diseksi sampai terbukti bukan.
Referensi: ESC ACS Guidelines 2023

Syok — 4 Tipe, 1 Framework

JVP · Akral · Auskultasi paru → terapi berbeda

Syok bukan hanya hipotensi. Syok = jaringan tidak cukup oksigen. Bedakan dari JVP + akral + paru dalam 2 menit.
TipeJVPAkralParuTerapi
HipovolemikDinginBersihCairan agresif
KardiogenikDinginRonki⚠️ Hindari cairan · Inotropik
Distributif/Septik↓/normalHangat (awal)Bersih/mixedCairan bertahap + antibiotik
ObstruktifDinginBersihAtasi penyebab (PE/PTX/tamponade)
Target Resusitasi
MAP ≥65 mmHg Laktat turun >10%/jam Urin ≥0.5 mL/kgBB/jam
Cairan agresif pada syok kardiogenik → edema paru fatal. Laktat ≥4 = syok berat. Tidak respons 30 mL/kgBB → norepinefrin (bukan dopamin).
Referensi: SCCM/ESICM Shock Guidelines 2023

Sepsis — Hour-1 Bundle SSC 2026

Setiap jam = nyawa

qSOFA — ≥2 poin = waspada sepsis
RR >22 (1 poin) GCS <15 (1 poin) TD sistolik ≤100 (1 poin)
Hour-1 Bundle
  • 1. Ukur Laktat≥4 mmol/L = syok berat. Bila >2, ukur ulang
  • 2. Kultur Darah2 set (aerob + anaerob) SEBELUM antibiotik
  • 3. AntibiotikDefinite/probable sepsis + syok → dalam 1 jam. Possible → dalam 3 jam
  • 4. Bolus KristaloidRL atau PlasmaLyte (lebih baik dari NaCl 0.9%). Bertahap, titrasi respons
  • 5. NorepinefrinBila hipotensi menetap. Target MAP 65 mmHg (lansia: 60–65 mmHg). Boleh via perifer
Jangan tunda antibiotik menunggu hasil kultur. Setelah 30 mL/kgBB tanpa respons: vasopressor — jangan tambah cairan.
Referensi: Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2024

Anafilaksis

Epinefrin IM — bukan antihistamin dulu

Epinefrin 1:1000 IM adalah terapi pertama dan utama. Antihistamin BUKAN penanganan akut.
  • Epinefrin IMDewasa: 0.5 mg paha lateral · Anak: 0.01 mg/kgBB · Ulangi tiap 5–15 mnt bila perlu
  • PosisiSupine + elevasi kaki (duduk bila sesak parah) · Jangan berdiri mendadak
  • O₂ + IV AccessHigh-flow O₂ · Kristaloid agresif bila hipotensi
  • AdjuvanAntihistamin H1+H2 + steroid — SETELAH epinefrin, bukan pengganti
Biphasic reaction: gejala bisa kembali 1–72 jam post-epinefrin. Observasi minimal 4–6 jam.
Referensi: WAO Anaphylaxis Guidelines 2023

Vital Sign — Tren, Bukan Angka

Ch3 — Baca arah pergerakan, bukan satu snapshot

Satu angka tidak cukup. Tiga titik berturutan lebih bermakna daripada satu nilai tunggal.
Yang Harus Selalu Di-Trending
  • Tekanan Darah — arah dan kecepatan perubahannya, bukan nilai sesaat
  • Nadi — takikardi kompensasi muncul lebih awal daripada hipotensi
  • RR — paling awal berubah, paling sering diabaikan
  • SpO2 — tren turun lebih bermakna dari angka tunggal
  • Kesadaran — perubahan kecil mendahului perubahan vital sign lain
Shock Index (Nadi ÷ Sistolik)
Shock IndexInterpretasi
< 0.7Normal
0.7 – 1.0Waspada — pre-syok
> 1.0Syok
> 1.5Syok berat — aktifkan MTP
Red Flags
• TD turun >20 mmHg dari baseline dalam waktu singkat
• Nadi naik progresif tanpa sebab jelas — cari perdarahan atau sepsis
• RR meningkat bertahap: sering lebih dini dari SpO2 turun
• Shock Index >1.0 meski TD masih tampak normal
Kunci Klinis
Vital sign = film, bukan foto Nadi naik dahulukan diagnosis pre-syok SI >1.0 = pre-syok meski TD normal
Referensi: AHA/ACC Guidelines 2023

Bertindak Sambil Berpikir

Ch4 — Stabilisasi + Diagnosis Berjalan Paralel

Pasien tidak menunggu diagnosis selesai dipikirkan. Stabilisasi dan pengumpulan informasi harus berjalan bersamaan.
Framework Berpikir Paralel
Tindakan ResusitasiInformasi yang Dikumpulkan
Buka airway, berikan oksigenTanya perawat: kapan datang, riwayat apa?
Pasang IV line, ambil darahNilai GCS, pupil, suhu, cek kulit
Bolus cairan bila hipotensiPeriksa abdomen, cek GDS
Pasang monitor EKGTanya keluarga yang baru tiba
Pasang kateter urinBaca hasil lab pertama, buat keputusan
Terapi Empiris yang Aman Diberikan Sebelum Diagnosis Tegak
  • Hipoglikemia dicurigai — D40% 2 flakon IV sambil tunggu hasil GDS
  • Syok tipe tidak jelas — kristaloid sambil cari penyebab
  • Curiga overdosis opioid — nalokson 0.4–2 mg IV sambil evaluasi
  • Hipoksia tidak jelas — oksigen sambil cari penyebab
  • Probable sepsis — antibiotik empiris dalam 1 jam sambil kultur
Respons terhadap terapi adalah bagian dari diagnosis. Membaik dengan D40% → hipoglikemia hampir pasti. Membaik dengan nalokson → toksidrom opioid hampir pasti.
Kunci Klinis
Stabilisasi tidak menunggu diagnosis Respons terapi = bagian diagnostik Terapi empiris boleh bila aman fisiologi
Referensi: ACEP Core EM Principles

Red Flags Lintas Sistem

Ch5 — Yang Tidak Boleh Dilewatkan di IGD

Tugasmu bukan mendiagnosis semua pasien dengan benar. Tugasmu adalah tidak melewatkan satu pun yang berbahaya.
Neurologi
  • Thunderclap headache — nyeri kepala mencapai puncak dalam detik → SAH sampai terbukti sebaliknya
  • Nyeri kepala baru >50 tahun — red flag wajib evaluasi
  • Defisit neurologis fokal baru — aktifkan code stroke, catat waktu
  • Kejang pertama pada dewasa — jangan pulang tanpa evaluasi etiologi
Kardiorespirasi
  • Nyeri dada menjalar ke rahang/lengan kiri — evaluasi ACS segera
  • Sesak mendadak pasca imobilisasi/kehamilan — curiga PE
  • Sinkop tanpa provokasi — EKG wajib sebelum pulang
  • Sesak + suara napas hilang satu sisi — tension pneumothorax, tindak sebelum foto
Abdomen
  • Nyeri perut + hipotensi — abdominal catastrophe, bedah segera
  • Nyeri perut >60 tahun + riwayat AAA — ruptur AAA sampai terbukti sebaliknya
  • Nyeri tidak sebanding tanda fisik + AF — iskemia mesenterika
Sistemik
  • Demam + rash petekiae — meningococcemia, antibiotik sekarang
  • Imunocompromised + demam — workup serius, jangan pulang tanpa evaluasi
  • Lemas pada lansia — bisa ACS atipikal, sepsis, atau stroke ringan
5 Red Flag Tertinggi
• Thunderclap → SAH sampai terbukti sebaliknya
• Demam + petekie → meningococcemia, antibiotik <30 menit
• Nyeri perut + hipotensi → catastrophe abdominal
• Defisit neurologis fokal baru → code stroke, catat jam
• Sinkop tanpa provokasi → EKG wajib
Referensi: RCEM Red Flag Guidelines 2023

Pasien Tidak Sadar — GDS Dulu

Ch8 — Penurunan Kesadaran & AEIOU TIPS

GDS wajib pada SEMUA pasien penurunan kesadaran, sebelum apapun. Hipoglikemia paling mudah dikoreksi dan paling sering terlewat.
Mnemonic AEIOU TIPS
HurufPenyebab
AAlkohol, Asidosis
EEpilepsi (post-iktal), Elektrolit
IInsulin (hipoglikemia atau hiperglikemia)
OOverdosis, Oksigen (hipoksia)
UUremia
TTrauma kepala
IInfeksi (meningitis, ensefalitis, sepsis)
PPoisoning, Psikiatri
SStroke, Syok, Suhu (hipo/hipertermia)
Interpretasi Pupil
Temuan PupilInterpretasi
Miosis bilateral, reaktifOpioid, metabolik, lesi pons
Midriasis bilateral, tidak reaktifAnoksia, simpatomimetik, kematian otak
Midriasis unilateral, tidak reaktifHerniasi uncal, N.III tertekan — DARURAT
Pupil normal, reaktifMetabolik/toksik — prognosis lebih baik
Tindakan Kritis
  • GCS ≤8 — airway tidak aman, pertimbangkan intubasi segera
  • GDS <70 — D40% 2 flakon IV segera
  • Curiga Wernicke (alkohol/malnutrisi) — tiamin 100 mg IV SEBELUM dextrose
  • Opioid (miosis + napas lambat) — nalokson 0.4–2 mg IV/IM. Target: napas adekuat, bukan sadar penuh
Red Flags
• Pupil anisokor baru → herniasi, CT kepala + konsul bedah saraf segera
• Hipertensi berat + kesadaran turun + bradikardi → Cushing response (TTIK)
• Demam + kaku kuduk + tidak sadar → meningitis bakterial, antibiotik <30 menit
• GCS turun progresif meski sudah intervensi → eskalasi segera
Referensi: AHA ACLS 2024

Aritmia — Stabil atau Tidak Stabil?

Ch11 — SVT, VT, AF, Bradikardi: Satu Pertanyaan untuk Semua

Pertanyaan pertama untuk SEMUA aritmia: Stabil atau Tidak Stabil? — bukan nama ritmenya, bukan rate-nya.
Tanda Tidak Stabil → Kardioversi/Defibrilasi Segera
Hipotensi / Syok Nyeri Dada Iskemik Sesak Berat / Edema Paru Penurunan Kesadaran / Sinkop
Tatalaksana Berdasarkan Pola EKG
TipeRateQRSContohTatalaksana
Takikardia sempit reguler>100<0.12 dtkSVT, sinus takikardiaVagal manuver, adenosin 6 mg IV
Takikardia sempit ireguler>100SempitAF, MATRate control: diltiazem atau metoprolol IV
Takikardia lebar reguler>100>0.12 dtkVT monomorfikAnggap VT: amiodaron 150 mg IV
Takikardia lebar ireguler>100LebarAF+WPW, TorsadesMgSO4 2 g IV (Torsades); WPW: JANGAN AV blocker
Bradikardia<60BervariasiAV block, sick sinusAtropin, transcutaneous pacing
Red Flags & Jangan Dilakukan
• Takikardia lebar → anggap VT, JANGAN adenosin (bisa memicu VF)
• AF + WPW → JANGAN diltiazem atau metoprolol (AV blocker percepat konduksi aksesori)
• Torsades de Pointes → MgSO4 2 g IV, bukan amiodaron
• VF → defibrilasi 200 J segera, non-sinkron
Kunci Klinis
Tidak stabil → kardioversi sinkron (kecuali VF → defibrilasi) Takikardia lebar = VT sampai terbukti sebaliknya Cari penyebab reversibel: hipokalemia paling sering terlewat
Referensi: AHA/ESC Arrhythmia Guidelines 2024

Nyeri Kepala — Thunderclap & SNOOP4

Ch12 — SAH Sampai Terbukti Sebaliknya

Thunderclap headache = SAH sampai terbukti sebaliknya. "Kali ini beda dari biasanya" → jangan pulang tanpa evaluasi.
3 Pertanyaan Kunci — Satu "Ya" = Tidak Boleh Pulang Tanpa Evaluasi
  • Thunderclap? — onset tiba-tiba mencapai intensitas maksimal dalam detik hingga menit?
  • Pertama kali? — ini nyeri kepala pertama dalam hidupnya?
  • Berbeda dari biasanya? — pasien punya riwayat nyeri kepala, tapi ini berbeda?
Red Flags: SNOOP4
HurufMakna
SSystemic symptoms — demam, penurunan berat badan
NNeoplasm — riwayat keganasan
OOnset mendadak — thunderclap
OOlder age — nyeri kepala baru di atas 50 tahun
PPostural — berubah saat posisi
PPapilledema
PPrecipitation — saat aktivitas atau Valsalva
PProgressive — makin berat dari waktu ke waktu
Pola Klinis & Tindakan
PolaDiagnosisPemeriksaanTindakan
Thunderclap, onset detik-menitSAHCT kepala non-kontras; LP bila CT negatifStabilisasi, bedah saraf, nimodipin
Demam, kaku kuduk, kesadaran menurunMeningitis/EnsefalitisLP (bila aman), CSFAntibiotik + asiklovir <30 menit
Nyeri berdenyut, unilateral, auraMigrainKlinisSumatriptan, NSAID, ruang gelap
Nyeri kepala baru >50 tahun, temporalArteritis temporalisESR, CRP, biopsi arteri temporalisSteroid oral/IV segera
CT kepala normal setelah thunderclap TIDAK berarti aman. Sensitivitas CT turun setelah 6 jam onset. LP tetap harus dilakukan untuk mencari xanthochromia.
Kunci Klinis
CT non-kontras dulu, LP bila CT negatif Meningitis: jangan tunda antibiotik untuk tunggu LP Arteritis temporalis: steroid segera → cegah kebutaan
Referensi: IHS ICHD-3 / AAN Guidelines 2023

Hipertensi Emergensi vs Urgensi

Ch15 — Angka Tinggi Belum Tentu Darurat

TD 220/130 asimtomatik berbeda jauh dari TD 180/110 dengan stroke aktif. Yang lebih berbahaya justru yang kedua.
Kategori & Target
KategoriDefinisiTarget TDAgen
EmergensiTD sangat tinggi + kerusakan organ target akutTurun 25% dalam 1 jam pertamaNikardipin, labetalol, atau nitroprusid IV
UrgensiTD sangat tinggi tanpa kerusakan organTurun bertahap 24–48 jamOral: amlodipin, bisoprolol, kaptopril
Stroke iskemik + eligible tPATD tinggi sebelum tPA<185/110 sebelum tPALabetalol IV atau nikardipin
Stroke iskemik + tidak tPATD sangat tinggiTurun hanya bila >220/120Labetalol IV, titrasi hati-hati
Diseksi AortaTD sangat tinggi + nyeri tearingSistolik <120 dalam 20 menitEsmolol + nitroprusid, atau labetalol
JANGAN nifedipin sublingual — penurunan TD mendadak tidak terkontrol, bisa menyebabkan iskemia otak.

Red Flags
• Nyeri tearing + hipertensi berat → diseksi aorta, sistolik <120 segera
• TD sangat tinggi + perubahan kesadaran + papilledema → ensefalopati hipertensif
• Eklampsia: kejang + hipertensi + proteinuria → MgSO4 + labetalol
Kunci Klinis
Emergensi ada kerusakan organ, urgensi tidak ada Target: turun 25% dalam 1 jam, bukan normalisasi cepat Stroke iskemik: jangan turunkan TD agresif kecuali ada indikasi tPA
Referensi: ESC Hypertension Guidelines 2023

Abdomen Akut

Ch16 — Peritonitis, Appendisitis, Ileus: Bedah atau Observasi?

Perut keras seperti papan = sinyal darurat. Dua pertanyaan kritis: butuh OR segera? Apakah cukup stabil untuk sampai ke sana?
Pola Klinis & Tindakan
PolaDiagnosisTanda KhasTindakan
Nyeri perut + hipotensiRuptur AAA / perforasi masifPerut kembung atau rigid, syok2 IV line, darah, bedah segera
Perut rigid, rebound, demamPeritonitisNyeri tekan difus, bising usus hilangKonsul bedah, IV line, antibiotik
Nyeri kolik, muntah, tidak flatusObstruksi ususDistensi, bising usus metalikNGT, IV line, foto abdomen, bedah
Nyeri kanan bawah, demamAppendisitisMcBurney, Rovsing, Psoas signUSG atau CT, konsul bedah, antibiotik
Nyeri tidak sebanding tanda fisik + AFIskemia mesenterikaTanda fisik minimal, asidosis laktatCT angio abdomen, bedah vaskular
Nyeri bawah, perempuan usia suburKET / kista ovarium torsiBeta-hCG wajibBeta-hCG, USG, konsul ginekologi
Analgesia pada acute abdomen BOLEH diberikan. Morfin 2–4 mg IV titrasi aman. Ini mitos yang sudah dibantah: morfin TIDAK menyembunyikan tanda peritonitis.
Red Flags
• Nyeri perut + hipotensi → catastrophe abdominal, bedah segera
• Nyeri tidak sebanding tanda fisik + AF + post-prandial → iskemia mesenterika
• Perut rigid, rebound, demam → peritonitis, konsul bedah segera
• Jangan lupa beta-hCG pada perempuan usia subur dengan nyeri perut
Referensi: WSES Acute Abdomen Guidelines 2023

Perdarahan Masif — MTP & Damage Control

Ch17 — Hematemesis, Melena: Kenali Sebelum Jendela Menutup

Aktifkan MTP bila: Shock Index >1.0 | Takikardi + hipotensi + laktat tinggi | Tidak respons terhadap 1–2 liter kristaloid awal
Prinsip Damage Control Resuscitation
  • Rasio transfusi ideal — PRC : FFP : Trombosit = 1:1:1
  • Hindari kristaloid masif — lebih dari 3 liter tanpa darah → koagulopati dilusi
  • Permissive hypotension — target sistolik 80–90 mmHg pada trauma penetrans tanpa cedera kepala, sampai hemostasis definitif
  • TXA (Asam Traneksamat) — 1 g IV dalam 10 menit + 1 g lanjutan dalam 8 jam. HARUS dalam 3 jam dari cedera. Setelah 3 jam: tidak efektif bahkan berbahaya
Lethal Triad — Cegah dari Awal
KomponenEfekPencegahan
HipotermiaMemperburuk koagulopati, aritmiaCairan hangat, selimut, ruangan hangat
AsidosisMenghambat faktor koagulasiVentilasi adekuat, kontrol perdarahan
KoagulopatiPerdarahan tidak bisa berhentiTransfusi 1:1:1, hindari kristaloid masif
Jangan tunggu Hb rendah di lab sebelum transfusi. Keputusan berbasis klinis dan hemodinamik, bukan nilai Hb awal.
Kunci Klinis
MTP: SI >1.0 atau estimasi perdarahan masif TXA harus dalam 3 jam cedera Maksimal 1–2 L kristaloid, lalu beralih ke darah
Referensi: ATLS 11 / EAST MTP Guidelines 2023

Keracunan — Kenali Toksidrom, Berikan Antidotum

Ch18 — ABCDE Dulu, Toksidrom Kemudian

Seringkali tidak ada label, tidak ada saksi. Yang kamu punya hanya pola klinis. Kenali toksidromnya, dan kamu punya arah.
Tabel Toksidrom & Antidotum
ToksidromTanda KhasPenyebab UmumAntidotum
OpioidMiosis, depresi napas, tidak sadarMorfin, heroin, kodeinNalokson 0.4–2 mg IV/IM
OrganofosfatMiosis, hipersalivasi, bradikardia, bronkospasmePestisida, insektisidaAtropin dosis besar + pralidoksim
SimpatomimetikMidriasis, takikardia, hipertensi, agitasiKokain, amfetaminSuportif + benzodiazepin untuk agitasi
TCAQRS >120 ms, aritmia, kejangAmitriptilin, imipraminNaHCO3 1–2 mEq/kgBB IV bolus
BenzodiazepinSedasi, depresi napas ringanDiazepam, alprazolamFlumazenil (hati-hati pada epilepsi)
ParacetamolMual awal, liver failure latenOverdosis paracetamolN-Asetilsistein IV dalam 8 jam optimal
Red Flags
• QRS >120 ms pada overdosis TCA → NaHCO3 segera, target pH 7.45–7.55
• Kejang pada overdosis organofosfat → atropin dosis besar dulu
• Overdosis paracetamol → N-Asetilsistein dalam 8 jam meski pasien terlihat baik
• EKG wajib pada SEMUA kasus keracunan
Jangan Lakukan
• Induksi muntah pada pasien mengantuk → aspirasi fatal
• Flumazenil pada pecandu benzodiazepin atau epilepsi → bisa memicu withdrawal seizure
• Arang aktif hanya bila <1 jam dari ingesti dan tidak ada kontraindikasi
Referensi: AACT/EAPCCT Poisoning Guidelines 2023

Stroke — Setiap Menit 1,9 Juta Neuron

Ch19 — BE-FAST, CT, Door-to-Needle <60 Menit

Catat waktu last known well. Ini titik nol semua keputusan. Last known well = waktu terakhir pasien diketahui kondisinya normal, bukan waktu gejala pertama diperhatikan.
BE-FAST — Skrining Cepat di Triase
HurufTemuan
BBalance — gangguan keseimbangan mendadak
EEyes — penglihatan ganda atau hilang mendadak
FFace — wajah turun satu sisi
AArm — lengan tidak bisa diangkat simetris
SSpeech — bicara pelo atau tidak nyambung
TTime — catat waktu onset atau last known well
Protokol Door-to-Needle: Target <60 Menit
WaktuTindakan
0–10 menitTriase, aktivasi code stroke, notifikasi tim
0–25 menitABCDE, GCS, NIHSS, IV line, ambil darah, CT kepala non-kontras
25–45 menitBaca CT, tentukan eligibilitas tPA, kontrol TD bila perlu
45–60 menitInformed consent, mulai tPA, dokumentasikan waktu pemberian
Kontraindikasi tPA Absolut
  • Perdarahan intrakranial pada CT
  • Stroke atau trauma kepala berat dalam 3 bulan terakhir
  • Operasi besar dalam 14 hari terakhir
  • Trombosit <100.000
  • INR >1.7
  • NOAC dalam 48 jam terakhir kecuali tes koagulasi negatif
Red Flags
• Defisit neurologis fokal mendadak → BE-FAST positif, aktifkan code stroke, catat waktu, langsung CT
• Pasien bangun tidur dengan stroke → hitung onset dari last known well, bukan waktu bangun
• Stroke ringan atau TIA → jangan pulang tanpa evaluasi, risiko stroke berat dalam 48 jam sangat tinggi
Kunci Klinis
CT non-kontras dulu: singkirkan perdarahan Jangan turunkan TD agresif pada stroke iskemik tanpa indikasi tPA CT kepala dan lab bisa dilakukan paralel
Referensi: AHA/ASA Stroke Guidelines 2023

Code Blue — ACLS Protokol

Ch20 — Kompresi Dulu, Debat Kemudian

Yang menentukan survival bukan obatnya — tapi kualitas kompresi di 2 menit pertama. CPR yang buruk lebih berbahaya dari tidak ada CPR.
Algoritma ACLS
RitmeTindakan
VF / VT Pulseless (Shockable)Defibrilasi 200 J bifasik segera → CPR 2 menit langsung setelah shock → analisis ritme → Epinefrin 1 mg IV setelah shock pertama gagal, tiap 3–5 menit → Amiodaron 300 mg IV setelah shock ketiga
Asistol / PEA (Non-shockable)CPR 2 menit segera → Epinefrin 1 mg IV tiap 3–5 menit → Cari dan atasi 5H5T selama CPR berjalan
5H5T — Penyebab Reversibel
Hypovolemia Hypoxia Hydrogen ion (Asidosis) Hypo/Hyperkalemia Hypothermia Tension Pneumothorax Tamponade Jantung Toxin / Obat Trombosis PE Trombosis Koroner (STEMI)
Kualitas CPR yang Benar
  • Frekuensi — 100–120 kali per menit
  • Kedalaman — 5–6 cm
  • Rekoil penuh setelah setiap kompresi
  • CCF (Chest Compression Fraction) — lebih dari 80%
  • Ganti penolong tiap 2 menit agar kualitas terjaga
Post-ROSC Care
  • Suhu target — 36–37 derajat Celsius
  • SpO2 target — 94–98%
  • PaCO2 target — 35–45 mmHg
  • MAP target — lebih dari 65 mmHg
  • EKG 12 lead segera — STEMI pasca ROSC = indikasi PCI
Interupsi CPR lebih dari 10 detik sudah terlalu lama. Epinefrin diberikan setelah shock pertama gagal, bukan sebelum defibrilasi.
Referensi: AHA ACLS 2024 / ILCOR 2024

Code Blue Sendirian

Ch21 — Mental Script 30 Detik Pertama

30 detik pertama bukan tentang algoritma — tapi 3 hal yang harus dilakukan sebelum tangan menyentuh pasien.
3 Langkah 30 Detik Pertama
  • 1. Teriak minta bantuan SEKARANG — bukan setelah konfirmasi, bukan setelah cek ritme. Satu orang tidak bisa resusitasi efektif sendirian.
  • 2. Konfirmasi henti jantung dengan cepat — tepuk bahu, panggil nama, lihat dada, raba nadi karotis maksimal 10 detik. Tidak ada nadi → mulai CPR.
  • 3. Mulai kompresi, jangan tunggu semua siap — siapapun terdekat pasien mulai kompresi. Instruksikan perawat kompresi sambil kamu siapkan defibrilator.
Positioning Tim
FormasiPosisiTugas
Minimal (2 orang)Satu orangKompresi dada, bergantian tiap 2 menit
Satu orangAirway, ventilasi, akses IV
Standar (3+ orang)Posisi 1 (kiri pasien)Kompresi dada, ganti tiap 2 menit
Posisi 2 (kepala)Airway, BVM, intubasi
Posisi 3 (kanan)Akses IV, siapkan obat, catat waktu
Dokter (di kaki)Visibilitas penuh, komando, keputusan
Kamu sebagai dokter tidak harus selalu yang kompresi. Berdiri di kaki pasien untuk visibilitas penuh dan posisi komando.
Kapan Berhenti
  • Panduan umum — resusitasi 20–30 menit tanpa ROSC, tanpa ritme shockable, tanpa penyebab reversibel yang bisa dikoreksi
  • Dokumentasikan semua waktu — code blue tanpa catatan waktu adalah masalah medikolegal
Kunci Klinis
Instruksi harus: nama + tindakan + waktu, tutup loop verbal Interupsi CPR >10 detik = terlalu lama Dokumentasikan semua waktu selama code
Referensi: AHA ACLS 2024 / ILCOR 2024

Pasien Hamil di IGD

Ch22 — Dua Pasien dalam Satu Tubuh: Gawat Darurat Obstetri

Stabilkan ibu dulu. Ibu yang stabil adalah kondisi terbaik yang bisa diberikan untuk janinnya. Urutannya tidak berubah.
Spektrum Kondisi Hipertensi Kehamilan
KondisiKriteriaTindakan
PreeklampsiaTD ≥140/90, proteinuria ≥300 mg/24 jam, >20 mingguMonitor, konsul obsgin
Preeklampsia BeratTD ≥160/110 atau keterlibatan organ targetMgSO4 profilaksis, obsgin
EklampsiaKejang pada preeklampsia tanpa sebab lainMgSO4 sekarang, obsgin
HELLP SyndromeHemolysis + Elevated Liver + Low PlateletsTerminasi segera, ICU
MgSO4 — Loading & Maintenance
  • Loading — 4 g IV dalam 15–20 menit (BUKAN bolus cepat)
  • Maintenance — 1–2 g per jam infus kontinyu
  • Monitor toksisitas sebelum tiap dosis — refleks patela ada + RR ≥16 + urin output ≥25 mL/jam
  • Antidotum toksisitas MgSO4 — kalsium glukonat 1 g IV pelan. Siapkan di samping tempat tidur selama infus berjalan
PPP — Perdarahan Post-Partum (4T)
TPenyebabTatalaksana
ToneAtonia uteri (80%)Masase fundus, oksitosin 20 IU infus, misoprostol 800 mcg rektal
TissueSisa plasentaEksplorasi uterus, kuretase
TraumaLaserasi jalan lahirJahit, bedah
ThrombinKoagulopatiProduk darah, transfusi
Red Flags
• Kejang pada hamil → eklampsia, MgSO4 4 g IV loading, BUKAN fenitoin
• TD ≥160/110 tidak turun → risiko stroke maternal sangat tinggi
• PPP tidak berhenti dengan uterotonika → bedah segera
• HELLP: nyeri epigastrium + ikterus + trombosit <100.000 → terminasi segera
Kunci Klinis
Eklampsia: MgSO4, bukan fenitoin Monitor toksisitas MgSO4: refleks patela, RR, urin output Posisi lateral kiri untuk semua ibu hamil trimester 3
Referensi: ACOG Emergency OB Guidelines 2023

Lansia di IGD — Lemas Belum Tentu Baik-Baik Saja

Ch23 — Geriatric Emergency & Presentasi Atipikal

"Lemas dan tidak mau makan" pada pasien 76 tahun bisa berarti ACS, sepsis, stroke ringan, atau kombinasi ketiganya. Tidak ada keluhan yang sepele.
Presentasi Atipikal pada Lansia
Kondisi SebenarnyaPresentasi Atipikal pada LansiaEvaluasi Kunci
ACSTidak ada nyeri dada — hanya lemas, mual, atau sinkopEKG, troponin
SepsisTidak demam, tidak leukositosis — hanya bingungDL, laktat, urinalisis, kultur
Abdomen akutNyeri minimal karena respons nyeri menurunUSG, CT abdomen
PneumoniaTidak batuk, tidak demam — hanya kebingunganCXR, procalcitonin
StrokeHanya bingung tanpa defisit motorik jelasCT kepala, NIHSS
Delirium vs Demensia
DeliriumDemensia
OnsetAkut (jam–hari)Kronik, progresif
FluktuasiFluktuatif — memburuk malam hariTidak fluktuatif
PenyebabAda penyebab medis akut yang bisa diobatiTidak reversibel
TindakanCari dan obati penyebabnyaManajemen kronik
CAM — Confusion Assessment Method
Delirium bila: (1) Onset akut dan fluktuatif + (2) Inatensi + (3) Pikiran tidak terorganisir ATAU perubahan kesadaran
Yang Sering Salah
• Anggap kebingungan lansia sebagai "memang sudah pikun" tanpa evaluasi penyebab akut
• Tidak bandingkan TD dengan baseline: hipotensi tersembunyi pada hipertensi kronik
• Benzodiazepin untuk agitasi delirium → memperburuk delirium
• Jangan sedasi dulu sebelum mencari penyebab delirium
Kunci Klinis
Ambang rawat inap lebih rendah — lansia tidak punya cadangan untuk tunggu di rumah Selalu bandingkan dengan baseline pasien Delirium akut: cari penyebab medis, jangan sedasi dulu
Referensi: AGS Geriatric EM Guidelines 2023

Kejang di Depanmu

Status Epileptikus Dimulai di Menit Ke-5

⏰ Batas Kritis: 5 Menit
Di menit ke-5, kejang yang belum berhenti adalah status epileptikus. Setiap menit tambahan menurunkan respons terapi.
Fase Waktu Tindakan
Fase 0: Stabilisasi 0-5 min Posisi lateral, O₂, GDS, pasang IV, catat waktu
Fase 1: Benzodiazepin 5-10 min Diazepam 10 mg IV atau Midazolam 10 mg IM
Fase 1: Ulang 10-20 min Ulangi dosis benzodiazepin bila belum berhenti
Fase 2: Anti-epileptik 20-40 min Fenitoin 20 mg/kgBB IV atau Fenobarbital atau Levetiracetam 1500 mg
Fase 3: Refrakter >40 min ICU, intubasi, Midazolam infus 0.1-0.4 mg/kgBB/jam

🔍 Cari Penyebab Reversibel

  • Hipoglikemia: GDS wajib pada semua kejang, D40% bila GDS < 60
  • Hiponatremia: NaCl 3% 100 mL IV
  • Infeksi: Meningitis/ensefalitis, antibiotik segera
  • Lesi struktural: CT kepala
  • Overdosis: Antidotum sesuai toksidrom
🚩 Red Flags:
✗ Kejang >5 menit = status epileptikus, tindak sekarang
✗ Kejang fokal pada pasien epilepsi biasa = evaluasi struktural
✗ Demam + kejang + kaku kuduk = meningitis/ensefalitis
⚠️ Yang Sering Salah:
• Memasukkan benda keras ke mulut pasien (tidak berguna, berbahaya)
• Tidak cek GDS pada semua kejang
• Menganggap semua kejang = breakthrough seizure tanpa cari penyebab
Referensi: ILAE Seizure Guidelines 2024

Sebelum Tanda Tangan

6 Pertanyaan Keamanan Sebelum Pulang

🤔 Sebelum Pulang, Tanya Diri Sendiri:
Kalau pasien ini balik jam 3 pagi dalam kondisi lebih buruk, apakah kamu sudah melakukan semua yang perlu?

6 Pertanyaan Keamanan Pulang:

  • ☐ Vital sign stabil tanpa intervensi aktif?
  • ☐ Gejala yang membawa ke IGD sudah teratasi/terkontrol?
  • ☐ Semua pemeriksaan rencana sudah selesai, hasil aman?
  • ☐ Pasien bisa minum, makan, merawat diri?
  • ☐ Pasien memahami return precautions dan akses fasilitas kesehatan?
  • ☐ Ada yang menemani dan memantau di rumah?

❌ Jangan Pulang Bila:

Kondisi Jangan Pulang Jika Alasan
Nyeri dada EKG & troponin pertama normal saja NSTEMI bisa terlewat, butuh serial
Sesak napas SpO₂ 93% dgn O₂, RR 28 Belum stabil, bisa deteriorasi
Sinkop Saat olahraga, riwayat jantung Aritmia maligna, butuh EKG monitoring
Pasca seizure Kejang pertama kali Evaluasi etiologi belum selesai
Nyeri perut Belum jelas etiologinya Risiko perburukan di rumah
💡 Return Precautions Harus Spesifik, Bukan Umum
✓ Benar: "Segera kembali jika: sesak memburuk, nyeri kepala baru/berat, muntah berulang, demam >38.5°C, pusing saat berdiri"
✗ Salah: "Kalau memburuk, kembali saja"
Referensi: KKI / IDI Indonesia 2023

Kapan ICU

Jangan Tunggu Terlambat

⚠️ ICU bukan tempat terakhir
ICU untuk pasien yang butuh level perawatan tidak bisa di bangsal biasa dan masih punya waktu untuk mendapat manfaatnya.

Kriteria Eskalasi per Sistem Organ:

Sistem Kriteria Masuk ICU
Pernapasan Butuh ventilasi mekanik, CPAP/BiPAP intensif, atau intubasi
Kardiovaskular Vasopressor/inotropik, aritmia tidak stabil, post-ROSC, syok refrakter
Neurologi GCS ≤8, status epileptikus refrakter, tanda TTIK meningkat, penurunan GCS >2 poin/jam
Metabolik KAD berat dengan GCS <13, hiponatremia simtomatik berat
Sepsis Septic shock dgn vasopressor, laktat ≥4 mmol/L tidak menurun

✅ Sebelum Transfer ke ICU (ABCD):

  • Airway: Aman. Intubasi jika GCS ≤8 atau risiko aspirasi
  • Breathing: Ventilasi adekuat, SpO₂ terpantau
  • Circulation: IV line besar, hemodinamik distabilkan
  • Devices: Monitor portable, oksigen cukup untuk perjalanan + 30% cadangan
  • Documentation: SBAR ke ICU penerima sebelum berangkat
🔑 Kunci Klinis:
• ICU untuk pasien yang masih bisa diselamatkan
• Jangan tunggu sangat buruk
• Stabilisasi: airway, breathing, circulation
• Komunikasi SBAR sebelum transfer
Referensi: SCCM ICU Admission Criteria 2023

Merujuk Pasien

Keterbatasan adalah Integritas Klinis

💡 Merujuk bukan tanda kelemahan
Merujuk berarti kamu tahu persis apa yang pasienmu butuhkan, dan kamu cukup jujur untuk akui fasilitas lain memberikan lebih baik.

Kondisi Rujuk & Persiapan:

Kondisi Rujuk Ke Persiapan Sebelum Berangkat
Stroke eligible tPA/thrombektomi RS neurologi intervensi Airway aman, CT baca, NIHSS tercatat
STEMI tanpa PCI RS kateterisasi Aspirin, heparin, nitrogliserin dimulai
Trauma kepala dgn hematom intrakranial RS bedah saraf Airway aman, mannitol kalau herniasi
Septic shock tidak respons RS dgn ICU Vasopressor berjalan, akses vaskular aman

✅ Checklist Transfer:

  • Konfirmasi RS tujuan bisa terima & siap sebelum berangkat
  • Pasien kritis didampingi dokter/perawat terlatih
  • Monitor portable & oksigen cukup + 30% cadangan
  • Dokumentasikan kondisi saat transfer lengkap
  • Serah terima formal & dokumentasi di rekam medis
🔑 Prinsip:
Rujuk adalah keputusan klinis, bukan tanda kelemahan.
Referensi: Permenkes No.001/2012

Cara Konsul

SBAR Praktis untuk Dokter Muda

⏰ 3 Menit Sebelum Telepon - Jawab 4 Pertanyaan:

  • 1. Siapa pasiennya? Nama, usia, keluhan utama (1 kalimat)
  • 2. Apa yang sudah kamu temukan? Vital terkini, temuan fisik, hasil lab yang ada
  • 3. Apa assessment kamu? Diagnosis kerja atau DDx utama (PENTING!)
  • 4. Apa yang kamu butuhkan? Konfirmasi tatalaksana, minta datang, rekomendasi obat, ambil alih?

📋 SBAR Format:

S — Situation
"Saya dokter dari IGD, pasien Ibu Siti, 42 tahun, nyeri dada sejak 2 jam, sesak napas"

B — Background
"Hipertensi tidak terkontrol, belum ada riwayat jantung sebelumnya"

A — Assessment ⭐ (Paling sering dilewatkan!)
"Saya curiga NSTEMI atau UA, EKG ada ST depresi di inferior"

R — Recommendation
"Saya butuh Anda datang untuk evaluasi dan tatalaksana spesialis"

❌ Dua Kesalahan Paling Sering:

  • Konsul Tanpa Assessment: Senior harus bangun assessment dari nol (bukan pekerjaan mereka)
  • Tidak Jelas Diminta Apa: "Tolong datang" ≠ "Saya butuh Anda datang 15 menit, lalu ambil alih pasien"

📞 Kalau Senior Tidak Responsif:

  • Telepon maksimal 2x dengan jeda 5-10 menit
  • Tidak diangkat → kirim pesan SBAR singkat
  • Kondisi memburuk → eskalasi ke dokter senior lain atau kepala IGD
💡 Ingat: Konsul yang baik = respons yang cepat & tepat.
Referensi: RCEM Communication Framework 2023

Informed Consent

Pasien Berhak Tahu, Keluarga Berhak Mengerti

💡 Prinsip Dasar
Pasien yang mengerti jauh lebih mudah diajak bekerja sama. Informasi yang jelas mengubah dinamika ruangan.

Prinsip Komunikasi Darurat:

  • Komunikasi berjalan paralel dengan tindakan (satu tim bicara, tim lain ABCDE)
  • Jangan hentikan resusitasi untuk menunggu IC pada kondisi mengancam jiwa
  • Presumed consent: Kondisi life-threatening, pasien tidak sadar, keluarga tidak ada → tindakan boleh dilakukan atas dasar presumed consent. Dokumentasikan alasan.

Cara Menjelaskan Diagnosis Berat (4 Langkah):

Langkah Aksi
1. Setting Ruang lebih tenang, pasien/keluarga duduk, kamu juga duduk
2. Check-in Tanyakan apa yang sudah mereka tahu tentang kondisi ini
3. Chunk-check Sampaikan bertahap, beri jeda, tanyakan pemahaman, ulangi kalau perlu
4. Confirm Pastikan mereka memahami & punya kesempatan tanya

Penolakan Tindakan (APS):

  • Jelaskan risiko dengan bahasa yang dipahami pasien/keluarga
  • Minta tanda tangan penolakan
  • Dokumentasikan di rekam medis dengan lengkap
  • Jika mengancam jiwa & pasien tidak kompeten → konsul manajemen RS
🔑 Kunci:
Jaga empati: emosi keluarga di atas kemarahanmu.
Referensi: Permenkes 290/2008

Rekam Medis

Dokumentasi Aman Mediko-Legal

⚖️ Rekam Medis yang Buruk ≠ Masalah Administratif
Di ruang sidang atau rapat komite, yang berbicara adalah rekam medisnya, bukan ingatanmu. Dokumentasi yang baik = bukti yang melindungimu.

✅ Elemen Wajib Dokumentasi IGD:

  • Waktu tiba dan waktu pertama diperiksa
  • Vital sign lengkap
  • Hasil ABCDE
  • Keputusan klinis dengan dasar reasoning
  • Tindakan yang dilakukan beserta waktu dan respons pasien
  • Return precautions yang diberikan
  • Kondisi saat pulang, rawat, atau rujuk

⏰ Waktu Kritis yang HARUS Dicatat:

JANGAN LUPAKAN:
• Waktu tPA diberikan
• Waktu antibiotik pertama (golden hour sepsis)
• Waktu konsultasi & respons
• Waktu keputusan rujuk
• Waktu serah terima

❌ Jangan Dokumentasikan:

  • Spekulasi tanpa dasar klinis
  • Kritik terhadap dokter lain
  • Informasi yang tidak relevan secara klinis

📝 Prinsip Dokumentasi:

  • Gunakan kalimat aktif dengan waktu yang jelas
  • Waktu kritis harus tercatat (tPA, antibiotik, konsultasi, transfer)
  • Penolakan tindakan: SELALU dokumentasikan dengan tanda tangan
  • Jangan tunda dokumentasi: semakin lama, semakin tidak akurat
💡 Ingat: Rekam medis yang baik adalah bukti terbaik bahwa kamu bertindak sesuai standar.
Referensi: Permenkes 24/2022

Pasien Sulit

Manajemen Komunikasi & De-eskalasi

💡 Tipe Pasien Sulit:
• Agresif & kasar
• Manipulatif (menuntut obat tertentu, menolak proses)
• Cemas berlebihan & paranoid
• Penolak terapi yang mengancam diri sendiri

🚫 De-eskalasi: Framework LOWERED

L Listen Dengarkan tanpa interupsi
O Open-minded Tunjukkan kamu tidak menghakimi
W Warn early Jelaskan konsekuensi perilaku (bukan ancaman)
E Empathize Validasi perasaan, walau tidak sependapat
R Respect Jaga martabat, jangan buat pasien merasa dipaksa
E Exit plan Tahu kapan berhenti dan escalate
D Delegate Pindahkan ke kolega kalau situasi tidak membaik

⚖️ Batas yang Sehat:

  • Tetap profesional walau pasien tidak
  • Validasi emosi, bukan tindakan buruk
  • "Saya mengerti Anda frustrasi, tapi saya tidak bisa melayani Anda kalau tidak ada hormat"
  • Panggil security kalau ada ancaman kekerasan nyata
🔑 Prinsip:
Pasien sulit ≠ pasien jahat. Biasanya mereka takut atau sakit. Validasi dulu, baru tata medis.
Referensi: ACEP Difficult Patient Guidelines 2023

Keluarga Marah

Menghadapi Tekanan & Emosi

💡 Akar Masalah
Keluarga yang marah biasanya bukan marah pada kamu. Mereka takut: • Orang dicintai tidak ditangani serius • Tidak ada yang mau mendengarkan • Tidak tahu apa yang terjadi di dalam

Anger Cycle - Pahami Pola:

  • Trigger: Informasi tidak jelas / menunggu lama / tidak ada respons
  • Eskalasi: Nada meninggi, kritis, ancaman
  • Puncak: Kemarahan penuh, bisa ada kekerasan verbal/fisik
  • De-eskalasi: Dengan respons yang tepat, anger menurun

📋 Framework HEAT:

H Hear Dengarkan tanpa interupsi, verifikasi pemahaman
E Empathize "Saya mengerti kenapa Anda khawatir, saya juga ingin dia baik"
A Apologize "Maaf kalau kami tidak jelas berkomunikasi" (bukan "maaf dia sakit")
T Take action Jelaskan rencana konkret & timeline, bukan janji hampa

📢 Strategi Komunikasi dengan Keluarga:

  • Update keluarga setiap 30 menit (keheningan = pengabaian)
  • Framework SPIKES untuk kabar buruk (Setting → Perception → Invitation → Knowledge → Emotions → Strategy)
  • Jangan defensif atau argue, walau keluarga salah

🚨 Kapan Panggil Security:

  • Ada ancaman kekerasan fisik nyata
  • Merusak properti IGD
  • Menyerang staff atau pasien lain
  • Prosedur: Tetap tenang, jangan berlari, panggil bantuan, dokumentasikan kejadian
🔑 Ingat:
Marah = takut. Validasi emosi dulu, informasi kemudian. Keselamatanmu adalah prioritas.
Referensi: ACEM Communication Framework 2023

Burnout Dokter

Dokter yang Habis Tidak Bisa Merawat Siapapun

⚠️ Ada titik di mana kamu tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan, tapi tetap harus jaga.
Banyak dokter IGD sampai titik itu lebih cepat dari yang mereka sadari.

3 Dimensi Burnout (Maslach):

Dimensi Deskripsi
Exhaustion Merasa terkuras, tidak ada energi tersisa
Depersonalisasi Sikap sinis & jarak emosional terhadap pasien
Penurunan Prestasi Merasa tidak kompeten & tidak berdampak

🚩 Tanda Bahaya (Perhatikan!):

  • Memikirkan pekerjaan terus-menerus di luar jam kerja
  • Kehilangan empati terhadap pasien
  • Membuat keputusan terburu-buru atau menghindari pasien kompleks
  • Kesulitan tidur atau terlalu banyak tidur
  • Peningkatan konsumsi alkohol/kafein sebagai coping

🔴 Red Flags yang Perlu Bantuan Profesional:

CARI BANTUAN SEGERA jika:
• Flashback tentang kasus spesifik >2 minggu
• Kecemasan berlebihan sebelum masuk kerja
• Pikiran untuk melukai diri sendiri
• Alkohol/obat sebagai mekanisme coping utama

💪 Strategi per Shift:

  • Ritual Pembuka: 5 menit sebelum mulai, tentukan 1 hal yang ingin dikerjakan baik hari ini
  • Micro-recovery: 5 menit antara pasien untuk reset mental
  • Ritual Penutup: Setelah shift, tulis 1 hal yang berjalan baik
  • Jangan Bawa Pulang: Masalah klinis tetap di IGD

Resources & Support:

  • EAP (Employee Assistance Program) institusi
  • Peer support: bicara dengan kolega yang dipercaya
  • Konseling profesional (psikolog klinis/psikiater)
  • Community dokter/forum dokter
💡 Kata Dokter:
Burnout bukan kelemahan karakter. Ini konsekuensi pekerjaan yang berat. Dokter yang merawat dirinya sendiri adalah dokter yang merawat pasiennya lebih baik.
Referensi: WHO Mental Health at Work 2022
Decision Tree

Alur Sesak Napas

Dari pintu masuk ke diagnosis

Pasien Sesak Napas
Nilai Work of Breathing
Otot bantu · Retraksi · Posisi tripod · Kemampuan bicara
SpO₂ + RR + Auskultasi bilateral
↓ Pola suara?
Wheeze ekspirasi
→ Asma/PPOK
Ronki bilateral
→ Edema Paru
Suara hilang 1 sisi
→ PTX/Hemotoraks
↓ Stridor + urtikaria?
Anafilaksis → Epinefrin IM Segera
↓ Riwayat PE?
Wells score · EKG S1Q3T3 · CT Angio

Alur Identifikasi Tipe Syok

JVP → Akral → Paru → Terapi

Hipotensi / Tanda Syok
↓ Periksa JVP
JVP Rendah
JVP Tinggi
↓ Periksa paru + akral
JVP↓ paru bersih
Hipovolemik
Cairan agresif
JVP↓ akral hangat
Distributif
Cairan + Ab
JVP↑ ronki
Kardiogenik
⚠️ Inotropik
JVP↑ paru bersih
Obstruktif
PE/PTX/Tamponade

Alur Status Epileptikus Dewasa

Protokol berbasis waktu — catat menit mulai

Kejang — Catat Waktu Mulai
↓ Menit 0–5
Posisi lateral · O₂ · GDS · IV access · Monitor
↓ >5 menit = Status Epileptikus
Menit 5–10: Diazepam 10 mg IV pelan
atau Midazolam 10 mg IM (tanpa IV)
↓ Belum berhenti
Menit 10–20: Ulangi benzodiazepin
↓ Menit 20–40
Fenitoin 20 mg/kgBB IV atau Fenobarbital 20 mg/kgBB atau Levetiracetam 1500 mg IV
↓ >40 menit = Refrakter
ICU · Intubasi · Midazolam infus 0.1–0.4 mg/kgBB/jam
GDS wajib pada semua kejang. Penyebab reversibel: hipoglikemia, hiponatremia, meningitis, overdosis.

Flowchart Stroke · STEMI · Sepsis · Anafilaksis

Coming soon

🚧

Coming Soon

Alur stroke (FAST + lytics window), STEMI door-to-balloon, sepsis bundle, code blue ACLS.

Fondasi Pediatri IGD

Vital Sign Normal — Per Usia

Nadi · RR · TD sistolik · Rumus cepat

UsiaNadi/minRR/minTD Sistolik
Neonatus 0–28 hr100–16530–6060–90
Bayi 1–3 bln100–15030–5070–100
Bayi 3–12 bln90–14025–4580–100
Toddler 1–3 thn80–13022–4086–106
Prasekolah 3–5 thn70–12020–3089–112
Sekolah 6–12 thn65–11018–2597–120
Remaja >12 thn60–10012–20110–135
Rumus cepat TD min normal: 70 + (2 × usia dalam tahun) untuk anak 1–10 tahun
Bradikardi pada anak = bahaya! Hampir selalu = hipoksia atau hipoperfusi berat. O₂ segera.
Cliff Phenomenon: Anak kompensasi kuat, lalu jatuh mendadak. "Tadi masih main, tiba-tiba begini" = perburukan sudah jauh.
Referensi: AHA/ACC Guidelines 2023

Kejang Demam — Protokol per Waktu

Dosis per kgBB · Status epileptikus anak

FaseWaktuTindakan
Stabilisasi0–5 mntPosisi lateral · O₂ · GDS · Monitor · Catat waktu
Benzodiazepin5–20 mntDiazepam IV 0.3 mg/kgBB atau Midazolam IM 0.2 mg/kgBB
Anti-epileptik20–40 mntFenitoin 20 mgPE/kgBB IV atau Fenobarbital 20 mg/kgBB atau Levetiracetam 60 mg/kgBB IV
Refrakter>40 mntIntubasi · ICU · Midazolam infus 0.1–0.4 mg/kgBB/jam
Kejang >5 menit = status epileptikus. Benzodiazepin SEGERA — jangan tunggu. Kejang fokal → evaluasi struktural.
Refrakter dengan demam → pertimbangkan asiklovir empiris (herpetic encephalitis).
Referensi: ILAE 2024 / AAP Febrile Seizures 2023

Sesak pada Anak

Croup · Bronkiolitis · Asma · Epiglotitis

Anak panik → obstruksi memburuk. Tenang + minimal stimulasi = intervensi pertama.
DxUsiaTanda KhasTindakan
Croup6 bln–3 thnBarking cough, stridor inspirasiDeksametason 0.6 mg/kgBB oral · Epinefrin neb (sedang/berat)
Bronkiolitis<2 thnWheeze ekspirasi, RSVO₂ bila SpO₂ <92%. Suportif saja — salbutamol/steroid tidak terbukti
Asma>1 thnWheeze ekspirasi, atopiSalbutamol 0.15 mg/kgBB neb tiap 20 mnt × 3 · Ipratropium · Metilprednisolon 1–2 mg/kgBB IV
EpiglotitisSemua usiaDrooling, tripod, toksikJANGAN spatel/visualisasi · Min stimulasi · Anestesi + THT segera
Epiglotitis: JANGAN periksa tenggorokan → presipitasi obstruksi total. Post-epinefrin croup: observasi ≥2 jam (rebound stridor). Asma refrakter: MgSO₄ 25–75 mg/kgBB dalam 20 mnt.
Referensi: GINA Pediatric 2024 / WHO IMCI

Ch2: Membaca Anak Sakit dari Pintu

Pediatric Assessment Triangle (PAT) — 30 detik pertama

Tiga Komponen PAT

KomponenYang DinilaiAbnormal Bila
Appearance (TICLS)Tone, Interactivity, Consolability, Look/Gaze, Speech/CryLemas, tidak interaktif, tatapan kosong, tangis lemah/tidak ada
Work of BreathingRetraksi (supra/inter/subkostal), NCH, stridor, wheezing, grunting, head bobbingPosisi tripod, grunting, head bobbing pada bayi
Circulation to SkinWarna kulit, pucat, mottling, sianosisPucat = vasokonstriksi; Mottling = syok; Sianosis sentral = hipoksemia berat

Kategori PAT & Tindakan

KategoriGambaranTindakan
StabilSemua normalEvaluasi terstruktur
Respiratory distressWoB abnormal, Appearance baikO2, evaluasi airway
Respiratory failureWoB + Appearance abnormalIntervensi airway segera
Syok terkompensasiCirculation abnormal, Appearance baikAkses IV, resusitasi cairan
Syok dekompensasiCirculation + Appearance abnormalResusitasi segera
Cardiopulmonary failureSemua 3 komponen abnormalCPR mungkin diperlukan
🚩 Red Flags
  • Appearance sangat abnormal (lemas total, tidak responsif) → pre-arrest, tindak sekarang
  • Grunting pada bayi → distress berat, BUKAN normal
  • Mottling di luar kondisi dingin → syok sampai terbukti sebaliknya
  • Sianosis sentral (bibir & lidah) → hipoksemia berat, O2 segera
⚠️ Yang Sering Salah
  • Menilai anak saat menangis kencang → appearance bisa falsely normal. Nilai saat di gendongan.
  • Mottling pada bayi >1 minggu perlu evaluasi serius
  • Tidak mempercayai insting orang tua
🔑 Kunci Klinis
  • PAT dilakukan dari jarak, sebelum menyentuh anak, dalam 30 detik
  • Satu komponen abnormal → evaluasi segera; Dua atau tiga → intervensi segera
  • Grunting, mottling, tatapan kosong = tanda sangat mengkhawatirkan
Referensi: Pediatric Assessment Triangle / PALS 2024

Ch3: ABCDE Pediatrik

Sama Urutan, Beda Isi — Anatomi & Fisiologi Anak

Perbedaan Kritis vs Dewasa

HurufPoin Pediatrik Kritis
A — AirwayPosisi sniffing (bukan hiperekstensi). Lidah relatif besar. Laring lebih anterior. Jaw thrust bila curiga C-spine.
ETT uncuffed: (usia/4)+4; cuffed: (usia/4)+3.5. Kedalaman: ukuran tube ×3
B — BreathingBayi = obligate nose breather (hidung tersumbat → distress). Distensi lambung → pasang NGT. Target SpO2 >94%
C — CirculationKompensasi hipovolemia = takikardi, bukan hipotensi. Hipotensi = late shock.
TD sistolik min: 70 + (2 × usia tahun). CRT >2 detik = perfusi buruk.
IO bila gagal IV 2× dalam 90 detik (tibia proksimal, anteromedial)
D — DisabilityGCS pediatrik (verbal & motorik dimodifikasi). GDS wajib pada semua anak perubahan kesadaran.
Hipoglikemia neonatus/bayi: D10% 2–5 mL/kgBB
E — ExposureTimbang atau pita Broselow. Formula: BB (kg) = 2×(usia+4) untuk 1–10 tahun. Cari tanda child abuse.

WETFLAG — Dosis Darurat Berbasis BB

HurufParameterRumus / Dosis
WWeight (kg)2×(usia+4) atau pita Broselow
EEnergy defib (J)2 J/kgBB (eskalasi: 4 J/kgBB)
TTube ETT(Usia/4)+4 uncuffed; +3.5 cuffed
FFluid bolus (mL)20 mL/kgBB kristaloid
LLorazepam / Diazepam0.1 mg/kgBB lorazepam; 0.3 mg/kgBB diazepam IV
AAdrenalin (epinefrin)0.01 mg/kgBB IV/IO (1:10.000)
GGlucose D10%2–5 mL/kgBB IV
🚩 Red Flags
  • Hipotensi pada anak = late shock, kompensasi penuh habis → tindak sangat agresif
  • Fontanel cembung + kesadaran menurun + demam → meningitis
  • CRT >3 detik + mottling + takikardi → syok, resusitasi segera
🔑 Kunci Klinis
  • Posisi airway: sniffing position, BUKAN hiperekstensi
  • Hipotensi = late shock. Takikardi + CRT memanjang = early shock
  • IO bila gagal IV 2× dalam 90 detik
  • GDS wajib pada semua anak dengan perubahan kesadaran
Referensi: ATLS 11th Ed. 2023

Ch5: Dosis per kgBB — Prinsip dan Rumus Berat

Satu Desimal yang Bisa Membunuh — Pita Broselow & Formula

Formula Estimasi Berat Badan

UsiaFormulaContoh
1–12 bulan(Usia bulan + 9) ÷ 26 bln: (6+9)/2 = 7.5 kg
1–5 tahun2 × (usia tahun + 4)3 thn: 2×7 = 14 kg
6–12 tahun3 × usia tahun8 thn: 3×8 = 24 kg

Dosis Obat Darurat Anak (semua per kgBB)

ObatDosisDosis MaksCatatan
Epinefrin cardiac arrest0.01 mg/kgBB IV/IO (1:10.000)1 mgTiap 3–5 menit
Epinefrin anafilaksis0.01 mg/kgBB IM (1:1.000)0.5 mgPaha lateral
Atropin0.02 mg/kgBB IV0.5 mg anak / 1 mg remajaMin 0.1 mg
Adenosin SVT0.1 mg/kgBB IV rapid push6 mg pertama, 12 mg keduaFlush cepat
Diazepam IV0.3 mg/kgBB IV pelan10 mg1–2 menit
Midazolam IM0.2 mg/kgBB IM10 mgBila tidak ada IV
Fenobarbital loading20 mg/kgBB IV1000 mgPelan 20 menit
Levetiracetam60 mg/kgBB IVDalam 15 menit
Salbutamol nebulisasi0.15 mg/kgBB5 mgMin 1.25 mg
Deksametason (croup)0.6 mg/kgBB IM/oral10 mgSingle dose
Mannitol 20%0.5–1 g/kgBB IV30 menit, TTIK
D10% hipoglikemia2–5 mL/kgBB IVNeonatus & bayi
Amiodarone VF/VT5 mg/kgBB IV/IO300 mgPush dan flush
🚩 Red Flags
  • Memberikan obat tanpa hitung berat badan = tidak dapat diterima
  • Kesalahan desimal = paling sering dan paling berbahaya
  • Epinefrin: pastikan konsentrasi (1:1.000 vs 1:10.000) — beda 10× lipat
⚠️ Yang Sering Salah
  • Estimasi BB secara visual → selalu lebih rendah dari aktual
  • Tidak cross-check konsentrasi larutan vs dosis dihitung
  • Memberikan D50% pada anak <1 tahun → osmolalitas terlalu tinggi
🔑 Kunci Klinis
  • Berat badan dulu, obat kemudian. Tidak ada yang boleh dibalik.
  • Pita Broselow = gold standard. Bila tidak ada, gunakan formula.
  • Double-check setiap dosis oleh dua orang bila memungkinkan.
  • Kesalahan desimal adalah yang paling sering dan paling berbahaya.
Referensi: Harriet Lane Handbook 2024 / BNF Children

Ch6: Demam pada Anak — Kapan Berbahaya

Pendekatan Berdasarkan Usia — Neonatus Sampai Anak Besar

Pendekatan Berdasarkan Usia

UsiaPendekatan
<28 hariSemua demam: rawat inap. Kultur darah, urin, LCS. Antibiotik empiris: ampisilin + gentamisin. Tidak ada pengecualian meski tampak baik.
1–3 bulanGunakan Rochester Criteria untuk stratifikasi risiko rendah. Semua butuh evaluasi lengkap. Risiko rendah: observasi + follow-up 24 jam.
3–36 bulanUrinalisis wajib (ISK = penyebab tersering demam tanpa fokus). Bila tampak baik + imunisasi lengkap: observasi. Bila tampak sakit berat: kultur, antibiotik, rawat inap.
>3 tahunIdentifikasi sumber demam. Antibiotik hanya bila ada indikasi jelas.
Meningitis pada Anak — Jangan Terlewat

Tanda meningismus klasik sering TIDAK ADA pada bayi dan anak kecil. Waspadai:

  • Demam + fontanel cembung
  • Demam + perubahan kesadaran
  • Demam + purpura

Bila dicurigai meningitis bakterial: jangan tunda antibiotik untuk menunggu CT atau LP.

🚩 Red Flags
  • Demam pada bayi <3 bulan → rawat inap, evaluasi sepsis
  • Purpura + demam → antibiotik dalam 30 menit, isolasi
  • Demam + tangis tidak bisa ditenangkan + fontanel cembung → meningitis
  • Demam tidak turun dengan antipiretik + anak tampak sangat sakit
🔑 Kunci Klinis
  • <28 hari dengan demam: rawat inap + kultur + antibiotik. Tidak ada pengecualian.
  • 1–3 bulan: Rochester Criteria
  • 3–36 bulan: urinalisis wajib (ISK tersering)
  • Meningismus klasik sering tidak ada pada anak kecil
  • Purpura + demam: antibiotik sekarang
Referensi: AAP Fever Guidelines 2023 / WHO IMCI

Ch9: Syok pada Anak — Jangan Tunggu Hipotensi

Kenali Tanda Kompensasi Sebelum Terlambat

Pada anak, tekanan darah normal BUKAN bukti tidak ada syok — itu bukti kompensasi masih bekerja. Kenali syok sebelum hipotensi muncul.

Tanda Klinis: Terkompensasi vs Dekompensasi

ParameterSyok TerkompensasiSyok Dekompensasi
TDNormalDi bawah minimum usia [70+(2×usia)]
NadiTakikardiSangat takikardia atau bradikardi
CRT2–3 detik>3 detik
KulitPucat, dingin periferMottling, sianosis
KesadaranAgitasi atau gelisahLetargi, tidak responsif

Tatalaksana

  • Akses vaskular: IV perifer 2 jalur. Bila gagal 2× dalam 90 detik → IO tibia proksimal segera
  • Bolus cairan: kristaloid 20 mL/kgBB dalam 5–10 menit. Nilai respons tiap bolus. Ulangi hingga 3 bolus (hati-hati overhydration pada sepsis)
  • Vasopressor (bila tidak respons 2–3 bolus):
    • Epinefrin 0.1–1 mcg/kgBB/menit → cold shock
    • Norepinefrin 0.1–2 mcg/kgBB/menit → warm shock
  • Sepsis: antibiotik dalam 1 jam
🚩 Red Flags
  • Bradikardi pada anak yang syok → pre-arrest, CPR mungkin diperlukan segera
  • Tidak respons setelah 2 bolus → cari penyebab non-hipovolemik atau mulai vasopressor
  • Hepatomegali + takikardi + gallop → syok kardiogenik, cairan bisa memperburuk
🔑 Kunci Klinis
  • Syok terkompensasi: TD masih normal, tapi takikardi + CRT memanjang + kulit dingin
  • IO segera bila gagal IV 2× dalam 90 detik
  • Bolus 20 mL/kgBB, nilai respons, ulangi hingga 3×
  • Tidak respons cairan → vasopressor dan cari penyebab kardiogenik/obstruktif
Referensi: SCCM/ESICM Shock Guidelines 2023

Ch10: Dehidrasi — Derajat dan Terapi Cairan

Diare & Dehidrasi — Nilai Derajat Sebelum Terapi

Penilaian Derajat Dehidrasi

TandaRingan (<5%)Sedang (5–10%)Berat (>10%)
KesadaranNormal, aktifGelisah, rewelLetargi, tidak responsif
MataNormalCekungSangat cekung, kering
Air mataAdaBerkurangTidak ada
Mulut / lidahLembabKeringSangat kering
Turgor kulit<2 detik2–4 detik>4 detik
NadiNormalTakikardiTakikardi berat atau lemah
CRT<2 detik2–3 detik>3 detik

Terapi

  • Ringan–Sedang: Oralit 75 mL/kgBB dalam 4 jam (WHO Low Osmolarity ORS). Bila muntah: tunggu 10 menit, coba lagi dengan sendok. Bila tidak bisa minum: NGT.
  • Berat: IV line (IO bila gagal). Bolus NaCl 0.9% atau RL 20 mL/kgBB dalam 15–30 menit. Lanjutkan rehidrasi 100 mL/kgBB dalam 3–6 jam.
  • Zinc: 10–20 mg/hari selama 10–14 hari (terbukti mengurangi durasi dan keparahan)
⚠️ Perhatikan
  • Hipokalemia: jangan koreksi K+ sampai urin output ada
  • Antibiotik tidak rutin — hanya disentri, kolera, atau imunokompromais
  • JANGAN loperamid pada anak → bisa menyebabkan ileus paralitik
🚩 Red Flags
  • Letargi + turgor sangat buruk + CRT >4 detik → dehidrasi berat, IV/IO segera
  • Tanda syok hipovolemik (nadi lemah, tidak sadar) → bolus segera, bukan oralit
  • Perut kembung + tidak BAB pada bayi muda → curiga volvulus atau Hirschsprung
🔑 Kunci Klinis
  • Nilai derajat dehidrasi sistematis: turgor, mata, CRT, kesadaran, urin output
  • Dehidrasi berat: IV bolus 20 mL/kgBB, ulangi bila perlu
  • ORS (oralit) = terapi utama ringan–sedang
  • Zinc 10–20 mg/hari × 10–14 hari
Referensi: WHO ORS Guidelines 2023 / AAP 2023

Ch11: Anak Tidak Sadar — GDS Dulu

Pendekatan AEIOU TIPS Pediatrik

Langkah PERTAMA: GDS — 2 menit, sebelum CT, sebelum apapun. Bila GDS <47 mg/dL: D10% 2–5 mL/kgBB IV segera (D25% 1–2 mL/kgBB untuk anak lebih besar).

AEIOU TIPS — Penyebab Penurunan Kesadaran Anak

HurufKategoriContoh Pediatrik
AAlcohol/ToxinsKeracunan obat orang tua, CO, alkohol
EEpilepsi/EndokrinStatus epileptikus, hipoglikemia, hipotiroid
IInfeksiMeningitis, ensefalitis, sepsis
OOverdosis/ObatParacetamol, antiepileptik, obat orang tua
UUremia/MetabolikGagal ginjal, hiponatremia, hiperamonemia
TTraumaHematom subdural, child abuse
IIskemiaStroke, syok, hipoperfusi
PPsikiatriPseudo-coma (diagnosis eksklusi)
SStrukturalTumor, hidrosefalus akut, abses

Urutan Evaluasi

  • GDS dulu — hipoglikemia paling mudah dikoreksi
  • GCS Pediatrik — komponen verbal & motorik dimodifikasi
  • Pupil & lateralisasi — anisokor → TTIK meningkat, CT kepala segera
Tanda TTIK — Trias Cushing

Bradikardi + hipertensi + napas ireguler = herniasi imminent.

  • Posisi kepala 30 derajat
  • Mannitol 20% 0.5–1 g/kgBB IV atau NaCl 3% 3–5 mL/kgBB
  • Konsul bedah saraf segera
🚩 Red Flags
  • GCS ≤8 → airway tidak aman, pertimbangkan intubasi
  • Trias Cushing → herniasi, tindak segera
  • Pupil anisokor baru → TTIK, CT segera
  • Penurunan kesadaran + memar tidak biasa → pertimbangkan child abuse
🔑 Kunci Klinis
  • GDS dulu pada semua anak dengan penurunan kesadaran
  • AEIOU TIPS untuk pendekatan sistematis
  • GCS ≤8 = airway tidak aman
  • Selalu pertimbangkan child abuse pada anak kecil dengan penurunan kesadaran
Referensi: AHA ACLS 2024

Ch12: Abdomen Anak — Bukan Sekadar Kolik

Dari Intususepsi hingga Appendisitis

Diagnosis Banding Nyeri Perut Anak

DiagnosisUsia KhasTanda KhasTindakan Kritis
Kolik infantil<4 bulanMenangis paroksikal, fleksi lutut pasca minum, berhenti sendiriReassurance, edukasi orang tua
Intususepsi3 bln–3 thnNyeri kolik paroksikal, jelly stool, massa abdomenUSG segera, enema reduksi atau OR
VolvulusNeonatus–bayiMuntah hijau, abdomen kembung, tidak BABOR darurat
Appendisitis akut>2 tahunMcBurney, rebound, demam, leukositosisKonsul bedah anak, antibiotik, OR
Hernia inkarserataSemua usiaBenjolan inguinal/skrotal, tidak bisa dikembalikanKonsul bedah segera
Torsi testis12–18 tahunNyeri testis mendadak, testis tinggi, mual muntahOR dalam 6 jam

Tips Pemeriksaan Anak

Mulai dari area tidak nyeri Pangku orang tua Perhatikan ekspresi wajah Guarding = tanda objektif Selalu periksa genitalia laki-laki Beta-hCG remaja perempuan

Pemeriksaan Penunjang

  • USG abdomen = modalitas pertama pada anak (tidak ada radiasi)
  • Foto polos abdomen: cari free air, distribusi udara, kalsifikasi
  • CT abdomen dengan kontras: bila USG inkonklusif dan appendisitis probable
  • Beta-hCG: wajib pada remaja perempuan dengan nyeri perut bawah
🚩 Red Flags
  • Muntah hijau pada bayi/anak muda → obstruksi usus, OR darurat
  • Intususepsi: jelly stool + nyeri paroksikal → USG dan bedah segera
  • Hernia inkarserata tidak bisa direposisi → OR dalam jam
  • Torsi testis: OR dalam 6 jam untuk salvage testis. Lewat 12 jam → orchiektomi
🔑 Kunci Klinis
  • Muntah hijau neonatus/bayi = obstruksi usus, OR darurat
  • Intususepsi: triple sign (nyeri paroksikal, jelly stool, massa abdomen)
  • Torsi testis: OR dalam 6 jam. USG = modalitas pertama
Referensi: APSA Guidelines 2023 / WSES Pediatric

Ch13: Anafilaksis pada Anak — Epinefrin per kgBB

Dosis Tidak Mengenal Usia — Selalu Dihitung per Kilogram

Tatalaksana Anafilaksis Pediatrik

TindakanDetail Pediatrik
Epinefrin IM (PERTAMA)0.01 mg/kgBB IM paha lateral (vastus lateralis). Maks 0.5 mg. Ulangi tiap 5–15 menit bila tidak respons.
PosisiSupine + elevasi kaki. Bila sesak: semi-fowler. JANGAN berdiri tiba-tiba.
O210–15 L/menit via NRM. Target SpO2 >95%.
IV line + bolus cairanNaCl 0.9% 20 mL/kgBB bolus bila hipotensi. Ulangi sampai hemodinamik stabil.
Antihistamin H1Dipenhidramin 1 mg/kgBB IV, maks 50 mg. Setelah epinefrin, bukan pengganti.
SteroidMetilprednisolon 1–2 mg/kgBB IV, maks 125 mg. Mencegah reaksi bifasik.
Salbutamol neb0.15 mg/kgBB bila bronkospasme. Adjuvan, bukan pengganti epinefrin.
Reaksi Bifasik & Observasi

Reaksi bifasik dapat terjadi 8–72 jam setelah resolusi tanpa paparan ulang. Observasi minimal 4–8 jam setelah anafilaksis berat. Rawat inap bila reaksi berat atau respons epinefrin lambat.

Edukasi Sebelum Pulang
  • Semua anak pasca anafilaksis perlu epipen untuk dibawa ke mana saja
  • Edukasi orang tua cara penggunaan yang benar
  • Rujuk ke dokter alergi anak
🚩 Red Flags
  • Anafilaksis: epinefrin IM harus diberikan dalam 5 menit pertama
  • Stridor + angioedema → obstruksi total bisa dalam menit
  • Hipotensi tidak respons epinefrin IM → epinefrin IV, vasopressor, ICU
  • Jangan pulang sebelum observasi minimal 4 jam
⚠️ Yang Sering Salah
  • Antihistamin DULU sebelum epinefrin → antihistamin tidak menghentikan anafilaksis
  • Epinefrin IM di deltoid pada anak → onset lebih lambat; paha lateral lebih cepat
  • Dosis epinefrin tidak dihitung per BB → overdosis atau underdosis
🔑 Kunci Klinis
  • Epinefrin 0.01 mg/kgBB IM paha lateral, tidak boleh ditunda
  • Bolus cairan 20 mL/kgBB NaCl 0.9% bila hipotensi
  • Antihistamin & steroid setelah epinefrin, bukan pengganti
  • Observasi minimal 4–8 jam. Epipen + edukasi orang tua sebelum pulang
Referensi: WAO Anaphylaxis Guidelines 2023

Ch14: Neonatus di IGD — Bayi Baru Lahir

Margin Kecil, Perubahan Cepat — Sistematis Adalah Kunci

Kondisi Kritis Neonatus di IGD

KondisiTanda KhasTindakan Segera
Sepsis neonatal awitan lambatLemas, tidak mau minum, hipotermia atau demam, apneaKultur + ampisilin + gentamisin
Ikterus patologisBilirubin di atas nomogram Bhutani, atau <24 jam atau >2 mingguFototerapi intensif atau transfusi tukar
Obstruksi ususMuntah hijau, abdomen kembung, tidak BABFoto abdomen + bedah anak
PPHNSianosis tidak respons O2, SpO2 pre > post-duktalOksigenasi optimal, hindari asidosis, NICU
HipoglikemiaGDS <47 mg/dLD10% 2 mL/kgBB IV bolus, lanjut infus
Jaga Kehangatan — PRIORITAS

Hipotermia memperburuk SEMUA kondisi neonatal: asidosis, koagulopati, dan hipoglikemia semuanya memburuk. Selimuti, gunakan lampu penghangat, minimalisasi paparan.

🚩 Red Flags
  • Muntah hijau → obstruksi usus, foto abdomen + bedah anak segera
  • Demam >38 atau hipotermia <36 → sepsis, kultur + antibiotik
  • Sianosis yang tidak respons O2 → PJB atau PPHN
  • Tidak ada BAB dalam 48 jam → penyakit Hirschsprung
🔑 Kunci Klinis
  • Jaga kehangatan: hipotermia memperburuk semua kondisi neonatal
  • GDS wajib pada semua neonatus sakit
  • Muntah hijau = obstruksi usus sampai terbukti sebaliknya
  • Demam atau hipotermia = sepsis, kultur + antibiotik segera
  • Sianosis tidak respons O2 = evaluasi penyakit jantung bawaan
Referensi: NRP 8th Ed. 2021 / AAP Newborn Care

Ch15: Child Abuse — Luka yang Tidak Terlihat di Kulit

Kenali, Dokumentasikan, Lapor — Kewajiban Hukum

Pola yang Harus Dicurigai — Physical Abuse

  • Memar multipel dalam berbagai tahap penyembuhan
  • Memar di area terlindungi: punggung, bokong, telinga
  • Pola memar berbentuk tali, sabuk, atau tangan
  • Fraktur spiral pada tulang panjang bayi
  • Hematom subdural bilateral + retina hemorrhage = Shaken Baby Syndrome

Riwayat yang Mencurigakan

Riwayat berubah-ubah tiap ditanya Mekanisme tidak sesuai usia perkembangan Keterlambatan membawa ke faskes Reaksi pengasuh tidak proporsional

Dokumentasi & Kewajiban Hukum

  • Foto semua lesi dengan penggaris + deskripsi lokasi dan ukuran
  • Catat riwayat verbatim dalam tanda kutip di rekam medis
  • Foto skeletal survei bila anak <2 tahun
  • Rawat inap untuk keamanan sambil evaluasi berlangsung
UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak

Tenaga kesehatan wajib melaporkan ke KPAI atau kepolisian bila ditemukan tanda-tanda kekerasan pada anak. Ini bukan pilihan — ini kewajiban hukum.

🚩 Red Flags
  • Hematom subdural + retina hemorrhage pada bayi → Shaken Baby Syndrome, rawat inap segera
  • Fraktur pada bayi yang belum bisa berjalan tanpa penjelasan trauma adekuat
  • Memar di area terlindungi pada anak kecil
  • Riwayat yang berubah-ubah = sesuatu yang disembunyikan
🔑 Kunci Klinis
  • Dokumentasikan semua lesi dengan foto + deskripsi tertulis
  • Skeletal survei bila curiga physical abuse pada anak <2 tahun
  • Rawat inap untuk keamanan dan evaluasi menyeluruh
  • Laporan ke KPAI/kepolisian = kewajiban hukum
  • Jangan konfrontasi langsung dengan pengasuh saat evaluasi berlangsung
Referensi: AAP Child Abuse Guidelines 2023

Ch16: Henti Jantung Anak — PALS

Berawal dari Napas — Cegah Sebelum Terjadi

Perbedaan Mendasar vs Dewasa: Cardiac arrest anak hampir selalu berawal dari kegagalan napas atau syok yang tidak tertangani — bukan aritmia. Tugas utama: mencegah arrest dengan mengenali respiratory failure dan syok lebih awal.

PALS vs ACLS: Perbedaan Kritis

AspekAnak (PALS)Dewasa (ACLS)
Penyebab arrestRespiratory failure, syokAritmia (VF/VT)
Ritme saat arrestAsistol atau PEA lebih seringVF/VT lebih sering
CPR ratio15:2 (tim) / 30:2 (single)30:2
Kedalaman kompresi1/3 diameter AP dada5–6 cm
Defibrilasi2 J/kgBB, eskalasi ke 4 J/kgBB200 J bifasik
Epinefrin0.01 mg/kgBB tiap 3–5 menit1 mg tiap 3–5 menit
Amiodarone VF/VT5 mg/kgBB300 mg

SVT pada Anak

  • HR >220/menit (bayi) atau >180/menit (anak lebih besar)
  • Vagal maneuver: es di wajah (bayi), Valsalva (anak lebih besar)
  • Adenosin 0.1 mg/kgBB IV rapid push, maks 6 mg pertama
  • Bila tidak stabil: kardioversi sinkronisasi 0.5–1 J/kgBB

Bradikardi dengan Perfusi Buruk

  • HR <60/menit + tanda perfusi buruk → mulai CPR
  • Pastikan oksigenasi adekuat dulu (bradikardi anak hampir selalu karena hipoksia)
  • Bila tidak respons: epinefrin 0.01 mg/kgBB IV atau IO

Post-ROSC Pediatrik

Suhu target 36–37.5°C SpO2 94–99% PaCO2 35–45 mmHg GDS 72–180 mg/dL Konsul PICU segera
🔑 Kunci Klinis
  • Cardiac arrest anak berawal dari napas atau syok — cegah sebelum terjadi
  • CPR 15:2 (tim) atau 30:2 (single), kedalaman 1/3 AP diameter dada
  • Defibrilasi 2 J/kgBB untuk VF/VT, eskalasi ke 4 J/kgBB
  • Epinefrin 0.01 mg/kgBB tiap 3–5 menit
  • SVT: adenosin 0.1 mg/kgBB rapid push. Bila tidak stabil: kardioversi
Referensi: AHA PALS 2024 / ILCOR 2024

Ch17: Airway Anak — Investasi Terpenting

Dari BVM hingga RSI Pediatrik — Ukuran ETT & Teknik

Rumus cepat ETT: Uncuffed: (Usia/4) + 4 | Cuffed: (Usia/4) + 3.5 | Kedalaman: ukuran tube × 3

Ukuran ETT per Usia

UsiaETTBladeJarak Bibir-Trakea
Neonatus cukup bulan3.0–3.5Straight 19–10 cm
1–6 bulan3.5Straight 110–11 cm
6–12 bulan3.5–4.0Straight 1–211–12 cm
1–2 tahun4.0–4.5Straight/Curved 212–14 cm
2–6 tahun4.5–5.0Curved 214–18 cm
6–12 tahun5.5–6.5Curved 2–318–22 cm
>12 tahun6.5–7.5 (cuffed)Curved 322–24 cm

RSI pada Anak

AgenJenisDosisIndikasi Utama
KetaminSedasi1–2 mg/kgBB IVPilihan pertama, aman hemodinamik tidak stabil + bronkospasme
EtomidatSedasi0.3 mg/kgBB IVTTIK atau status epileptikus
SuksinilkolinParalitik1–2 mg/kgBB IVOnset cepat, durasi pendek
RocuroniumParalitik1.2 mg/kgBB IVReversal dengan sugammadeks 16 mg/kgBB

Konfirmasi Intubasi

Kapnografi = gold standard (EtCO2 >35 mmHg) Auskultasi bilateral Dada mengembang simetris
💡 Tips Praktis
  • Posisi sniffing selalu pada bayi & anak kecil, bukan hiperekstensi
  • Oksiput bayi lebih besar: beri padding di bawah bahu untuk posisi netral
  • Bila gagal intubasi: pasang LMA sambil panggil bantuan
  • Jangan lebih dari 3 percobaan intubasi
🔑 Kunci Klinis
  • Posisi sniffing, BUKAN hiperekstensi — selalu pada bayi dan anak kecil
  • ETT: (usia/4)+4 uncuffed atau +3.5 cuffed
  • Konfirmasi intubasi: kapnografi = gold standard
  • RSI anak: ketamin + suksinilkolin atau rocuronium
  • Bila gagal intubasi: LMA, panggil bantuan
Referensi: AHA PALS 2024 / Difficult Airway Society
ER Playbook Vol 2 - Pediatric Cards

ER Playbook Vol 2 - Pediatrik

ATLS 11 Ed. 2023 — Trauma Evidence-Based

xABCDE — Primary Survey ATLS 11 (2023)

Kontrol perdarahan masif eksternal SEBELUM airway

Perubahan ATLS 11: Exsanguinating hemorrhage → intervensi pertama. Tourniquet terpasang sebelum pindah ke Airway.
StepKomponenIntervensi Kunci
xExsanguinating HemorrhageTourniquet proksimal 5-7 cm di atas luka. Hemostatic dressing (kaolin/chitosan) untuk luka non-tourniquet. Pelvic binder bila curiga fraktur pelvis.
AAirway + C-spine protectionJaw thrust tanpa head-tilt. C-collar selektif hanya jika ada mekanisme dan gejala. Bila definitive airway dibutuhkan maka RSI.
BBreathing 6 Life ThreatsTension PTX maka needle decompression ICS 2 mid-klavikula atau ICS 4 anterior-axillary (jangan tunggu CXR). Hemothorax masif maka chest tube ICS 4-5. Open PTX maka tutup 3 sisi.
CCirculation2 IV large-bore atau IO. MTP ratio 1:1:1 (RBC:FFP:PLT). Target SBP 80-90 mmHg (permissive hypotension) sampai surgical control kecuali TBI.
DDisability NeurologiGCS, pupil, lateralisasi. Glukosa darah (rule out hipoglikemia). Bila GCS 8 atau kurang maka airway definitif.
EExposure + EnvironmentBuka semua pakaian, cari luka tersembunyi. Cegah hipotermia: selimut hangat, cairan hangat.
Update 2023: ATLS 11 memperkenalkan selective C-spine immobilization. Tidak semua trauma tumpul perlu c-collar rutin. Gunakan NEXUS criteria atau Canadian C-Spine Rule.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023 — American College of Surgeons

Syok Hemoragik — Klasifikasi & Respons Resusitasi

Estimasi kehilangan darah dan target resusitasi

KelasVolume HilangHRTD SistolikRRGCS
Ikurang dari 750 mL (kurang 15%)kurang dari 100Normal14-20Normal
II750-1500 mL (15-30%)100-120Normal/turun20-30Cemas
III1500-2000 mL (30-40%)120-140turun30-40Bingung
IVlebih dari 2000 mL (lebih 40%)lebih dari 140 atau bradikarditurun beratlebih dari 35Letargi/koma
Catatan Klinis: Pasien muda dan atletis bisa mempertahankan TD normal meski kehilangan 30-40% volume. Jangan andalkan TD sebagai satu-satunya indikator syok.
  • FAST (Focused Assessment with Sonography in Trauma): deteksi cairan bebas perikardial, peritoneal, dan pleural dalam kurang dari 3 menit.
  • eFAST: tambahkan window paru untuk mendeteksi pneumothorax (sliding sign hilang) dan hemothorax.
  • FAST negatif tidak menyingkirkan cedera organ padat. Ulangi bila hemodinamik memburuk.
  • Shock Index (HR/SBP): lebih dari 1.0 berarti syok signifikan. Lebih dari 1.4 berarti mortalitas sangat tinggi. Berguna saat TD masih terlihat normal.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023 ACS; EAST Guidelines Hemorrhagic Shock

Cedera Tersembunyi — Red Flags yang Tidak Boleh Terlewat

Missed injury adalah penyebab kematian yang bisa dicegah

Prinsip: Secondary survey harus dilakukan dari ujung kepala sampai ujung kaki termasuk lipatan kulit, punggung, perineum, dan aksila.
AreaCedera TersembunyiRed Flag / Tanda
Toraks posteriorHemothorax, fraktur costa posteriorMemar punggung, nyeri palpasi costa
AbdomenRuptur limpa delayed, laserasi heparKehr sign, FAST serial berubah
PelvisFraktur pelvis tidak stabil, ruptur uretraNyeri tekan simfisis, hematoma perineum, darah di meatus uretra
Tulang belakangFraktur burst, dislokasiNyeri midline, defisit neurologi, priapismus
EkstremitasFraktur tersembunyi, sindrom kompartemen5P: Pain, Pallor, Pulselessness, Paresthesia, Paralysis
Kepala/LeherDiseksi arteri karotis/vertebralisTrauma mekanisme high-energy, defisit fokal delayed
  • Log roll wajib dilakukan saat primary survey untuk periksa punggung, spine, dan rektum bila ada indikasi.
  • Pasien tidak sadar atau mabuk: threshold CT scan lebih rendah.
  • BLUNT CEREBROVASCULAR INJURY (BCVI): pertimbangkan bila mekanisme high-energy ditambah Horner syndrome atau bruit karotis. CT angiografi leher diperlukan.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; EAST Guidelines Missed Injuries 2023

Respons terhadap Cairan Awal sebagai Alat Diagnosis

Pola respons menentukan sumber perdarahan dan kebutuhan operasi

Perubahan Paradigma ATLS 11: Cairan kristaloid bukan lagi terapi utama. Darah dan produk darah adalah cairan resusitasi pilihan pertama pada syok berat.
Pola ResponsKarakteristikInterpretasiTindakan
Rapid ResponderHemodinamik membaik dan stabilKehilangan darah minimal, perdarahan berhentiObservasi, persiapkan transfusi bila diperlukan
Transient ResponderMembaik sementara lalu memburuk lagiPerdarahan masih aktif atau kehilangan lebih dari 30%Aktifkan MTP. Konsul bedah segera. Pertimbangkan intervensi.
Non-ResponderTidak ada perbaikan meski resusitasi agresifPerdarahan masif tidak terkontrol atau penyebab non-hemoragikDamage control surgery emergensi ATAU cari penyebab lain (tension PTX, tamponade)
  • Berikan maksimal 1 L kristaloid. Lebih dari itu meningkatkan dilusi koagulopati dan edema jaringan.
  • Warm resuscitation: semua cairan dan produk darah harus dihangatkan (37 derajat Celsius atau lebih). Hipotermia ditambah asidosis ditambah koagulopati adalah lethal triad.
  • Target resusitasi: MAP 50-65 mmHg (SBP 80-90) sampai kontrol perdarahan bedah dicapai. Kecuali TBI berat dengan target SBP 110 mmHg atau lebih.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; EAST Massive Transfusion Guidelines 2023

Damage Control Resuscitation (DCR) — Hentikan Lethal Triad

Cegah hipotermia, asidosis, koagulopati sebelum operasi definitif

Lethal Triad: Hipotermia (kurang dari 35 derajat C) ditambah Asidosis (pH kurang 7.2) ditambah Koagulopati (INR lebih 1.5). Mortalitas lebih dari 90% bila ketiganya ada bersamaan.
Komponen DCRTarget / Intervensi
Massive Transfusion Protocol (MTP)Ratio 1:1:1 antara RBC, FFP, dan Platelet. Aktifkan bila prediksi butuh lebih dari 10 unit RBC per 24 jam atau ABC Score 2 atau lebih.
Tranexamic Acid (TXA)1 g IV dalam 10 menit lalu 1 g infus dalam 8 jam. WAJIB diberikan dalam 3 jam pertama sejak cedera. Setelah 3 jam tidak efektif dan mungkin berbahaya (CRASH-2 trial).
Permissive HypotensionTarget SBP 80-90 mmHg sampai kontrol bedah kecuali TBI (target SBP 110 atau lebih).
Calcium repletionCaCl2 1 g IV setiap 4 unit RBC karena masif transfusi menyebabkan hipokalsemia dan disfungsi jantung.
Cegah hipotermiaWarming blanket, cairan hangat, ruangan hangat. Target 36 derajat Celsius atau lebih.
Koreksi asidosisKontrol perdarahan ditambah resusitasi, bukan bikarbonat rutin.
  • REBOA (Resuscitative Endovascular Balloon Occlusion of the Aorta): alternatif resusitasi bedah yang bisa ditempatkan di zona 1 (torako-abdominal) atau zona 3 (pelvis) sebagai jembatan ke OR. Update terbaru dalam ATLS 11 dan WSES 2023.
  • Whole Blood: bila tersedia, darah lengkap (fresh warm whole blood) lebih baik dari komponen terpisah dalam setting DCR.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; WSES Hemorrhage Guidelines 2023; CRASH-2 Trial

Trauma Toraks — 6 Ancaman Jiwa dalam Primary Survey

Identifikasi dan tangani sebelum pindah ke secondary survey

Prinsip: Keenam kondisi ini menyebabkan kematian dalam menit. Diagnosis klinis, tidak menunggu imaging.
KondisiTanda KlinisIntervensi Segera
Tension PneumothoraxDistres napas berat, JVD, trakea deviasi, suara napas hilang, hipotensiNeedle decompression ICS 2 MCL atau ICS 4-5 AAL kemudian lanjut chest tube
Open PneumothoraxLuka dinding dada "sucking", udara masuk lewat lukaTutup 3 sisi (biarkan 1 sisi terbuka) kemudian chest tube jauh dari luka
Massive HemothoraxSuara napas hilang, perkusi redup, hipotensi, JVD tidak adaChest tube besar ICS 4-5 AAL. Bila lebih dari 1500 mL langsung atau lebih dari 200 mL per jam maka thoracotomy
Flail ChestGerakan dada paradoksal, nyeri hebat, hipoksiaAnalgetik adekuat, IPPV bila gagal napas. Stabilisasi bedah bila diperlukan.
Cardiac TamponadeBeck Triad: JVD ditambah hipotensi ditambah suara jantung redup. Pulsus paradoxus. FAST positif.Perikardiosentesis atau pericardial window. Bedah segera.
Airway Obstruction MasifStridor, sianosis, tidak bisa diventilasiRSI kemudian cricothyroidotomy bila gagal intubasi
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; WSES Thoracic Trauma Guidelines 2023

Trauma Kepala Berat — Cegah Secondary Brain Injury

Hipoksia dan hipotensi adalah pembunuh kedua setelah benturan pertama

Target Absolut TBI Berat (GCS 8 atau kurang): SpO2 95% atau lebih | SBP 110 mmHg atau lebih | PaCO2 35-40 mmHg | Normoglikemia | Normothermia
ParameterTargetRasional
SBP110 mmHg atau lebih (bukan 90)CPP = MAP dikurangi ICP. Hipotensi memperparah iskemia otak
SpO295% atau lebihSatu episode hipoksia saja meningkatkan mortalitas 2 kali lipat
PaCO235-40 mmHgHindari hiperventilasi profilaksis karena menyebabkan vasokonstriksi
Glukosa140-180 mg/dLHipoglikemia dan hiperglikemia keduanya berbahaya
Suhu36-37 derajat CHiperthermia meningkatkan metabolisme cerebral
  • Tanda herniasi: anisokoria, postur dekortikasi/deserebrasi, Cushing reflex (bradikardi ditambah hipertensi ditambah napas ireguler). Berikan mannitol 1 g/kg atau NaCl 3% 250 mL, head up 30 derajat, konsul bedah saraf segera.
  • CT kepala segera: tidak boleh ada delay karena prosedur lain bila GCS kurang dari 13 atau memburuk.
  • Jangan beri cairan hipotonik (dekstrosa, RL). Gunakan NS atau NaCl 3% bila ada peningkatan ICP.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; BTF TBI Guidelines 4th Ed. 2023

Perdarahan Intra-Abdominal — FAST Negatif Bukan Akhir Cerita

FAST serial dan CT scan tentukan keputusan operasi

Keterbatasan FAST: Sensitivitas FAST untuk cedera organ padat hanya 67-80%. FAST negatif pada hemodinamik tidak stabil tetap harus dipertimbangkan DPL atau laparotomi eksploratif.
  • FAST positif ditambah hemodinamik tidak stabil: laparotomi damage control tanpa menunggu CT.
  • FAST positif ditambah hemodinamik stabil: CT abdomen kontras untuk karakterisasi cedera dan grade organ.
  • FAST negatif ditambah hemodinamik tidak stabil: cari sumber lain (thorax, pelvis, ekstremitas), ulangi FAST, pertimbangkan DPL.
  • FAST negatif ditambah hemodinamik stabil ditambah mekanisme berat: CT abdomen obligat.
OrganGrade Berat (IV-V)Manajemen
HeparLaserasi lebih dari 3 cm atau vaskularNOM bila stabil. Angioembolisasi. OR bila tidak stabil.
LienRuptur luas atau cedera hilusSplenektomi atau splenorafi. NOM pada grade I-III stabil.
GinjalLaserasi hingga pelvis atau vaskularNOM untuk sebagian besar. OR bila perdarahan tidak terkontrol.
Usus dan MesenteriumRuptur atau transeksiFAST sering negatif maka CT kontras wajib. Repair atau reseksi.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; WSES Abdominal Trauma Guidelines 2023; AAST Organ Injury Scale

Trauma Penetrans & Fraktur Pelvis Tidak Stabil

Dua penyebab perdarahan masif yang membutuhkan intervensi berbeda

Fraktur Pelvis Terbuka/Tidak Stabil: Bisa menyebabkan perdarahan 3-5 L ke ruang retroperitoneal. Intervensi cepat menyelamatkan jiwa.
  • Trauma penetrans toraks: zona I (mediastinum), zona II (lateralis), zona III (leher bawah), masing-masing punya implikasi bedah berbeda. Setiap luka tikam di bawah payudara harus dianggap abdominal sampai terbukti sebaliknya.
  • Trauma tembak abdomen: hampir semua merupakan indikasi laparotomi eksploratif, berbeda dari luka tikam.
Intervensi Fraktur PelvisTeknikIndikasi
Pelvic BinderPasang di level trokanter mayor, bukan SIASSemua suspected fraktur pelvis tidak stabil, lakukan di primary survey
Preperitoneal Packing (PPP)Bedah packing retroperitonealHemodinamik tidak stabil setelah binder dan resusitasi
AngioembolisasiInterventional radiologyPerdarahan arterial yang persisten setelah stabilisasi mekanis
Fiksasi eksternalOrtopediKontrol mekanis fraktur tidak stabil setelah DCR
Ruptur Uretra: Darah di meatus uretra ditambah hematoma perineum maka jangan pasang kateter urin. Konsul urologi. Pasang suprapubic bila diperlukan.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; WSES Pelvic Trauma Guidelines 2023; EAST Penetrating Trauma Guidelines

Sindrom Kompartemen & Status Neurovaskular Ekstremitas

5P harus diperiksa pada setiap ekstremitas yang cedera

Window Fasiotomi: Kurang dari 6 jam dari onset maka fungsi normal. 6-12 jam maka risiko defisit. Lebih dari 12 jam maka kemungkinan nekrosis permanen. Jangan tunda bila klinis jelas.
5PTandaInterpretasi
PainNyeri pasif stretch yang tidak proporsionalTanda paling awal dan sensitif
PressureKompartemen tegang dan keras seperti batuKonfirmasi dengan pengukuran tekanan (lebih dari 30 mmHg atau delta P kurang dari 30 mmHg)
PallorPucat, CRT memanjangGangguan perfusi arteri distal
ParesthesiaRasa kesemutan atau baalIskemia saraf sensoris
ParalysisKelemahan atau tidak bisa gerakkan jariTanda lanjut, iskemia saraf motoris
  • Tekanan kompartemen normal kurang dari 10 mmHg. Delta P (diastolik BP dikurangi kompartemen pressure) kurang dari 30 mmHg adalah indikasi fasiotomi.
  • Fraktur femur terbuka atau fraktur tibia ditambah crush injury memiliki risiko tertinggi sindrom kompartemen.
  • Tourniquet time: bila lebih dari 2 jam maka waspada reperfusion injury dan sindrom kompartemen. Jangan langsung lepas tanpa evaluasi.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; EAST Extremity Trauma Guidelines; AAST 2023

Luka Bakar — Triage, Resusitasi Cairan, & Airway Burn

Parkland formula dan ancaman airway inhalasi

Airway Burn: Stridor, suara serak, dahak hitam, bulu hidung terbakar maka intubasi segera sebelum edema menutup jalan napas. Jangan tunggu memburuk.
DerajatKarakteristikManajemen
Superfisial (I)Merah, nyeri, tidak ada bulaAnalgetik, perawatan luka lokal
Partial Thickness (II)Bula, dasar merah basah, sangat nyeriDebridemen, dressing, pertimbangkan rujuk
Full Thickness (III)Putih atau hitam, keras, tidak nyeriSkin graft, rujuk ke burn center
Subdermal (IV)Sampai tulang atau tendonAmputasi mungkin diperlukan, burn center
  • Rule of Nines (dewasa): Kepala 9%, Toraks anterior 18%, Toraks posterior 18%, tiap lengan 9%, tiap paha 9%, tiap betis dan kaki 9%, perineum 1%.
  • Parkland Formula: 4 mL dikali BB (kg) dikali persen TBSA (grade 2 ke atas). Separuh diberikan dalam 8 jam pertama dihitung dari waktu cedera bukan kedatangan. Separuh lagi dalam 16 jam berikutnya. Gunakan Ringer Laktat.
  • Modified Brooke Formula (ABA 2024): 2 mL dikali BB dikali persen TBSA. Lebih disukai untuk mengurangi over-resusitasi atau fluid creep.
  • Target urin output: 0.5-1 mL/kg/jam dewasa; 1 mL/kg/jam anak.
  • Luka bakar 20% TBSA atau lebih, atau luka bakar khusus (wajah, tangan, genitalia, inhalasi, listrik, kimia) maka rujuk ke burn center.
Referensi: ABA Burn Guidelines 2024; ATLS 11th Edition 2023

Cedera Tulang Belakang — Proteksi, Clearance, & SCI Manajemen

Imobilisasi selektif berbasis klinis, bukan universal

ATLS 11 Update: C-spine clearance klinis dimungkinkan tanpa imaging bila kriteria NEXUS atau CCR terpenuhi. C-collar rutin pada semua trauma tidak lagi direkomendasikan.
  • NEXUS Criteria (clearance tanpa CT): Tidak ada nyeri midline, tidak ada defisit neurologi, tidak ada intoksikasi, tidak ada distracting injury, tidak ada gejala tidak sadar.
  • Canadian C-Spine Rule: Bila ada salah satu high-risk factor (usia 65 atau lebih, parestesia ekstremitas, mekanisme berbahaya) maka wajib imaging.
Level SCIDefisit Motoris KhasImplikasi Klinis
C3-C5Diafragma (respirasi)Ventilasi mekanik segera
C5-C6Bahu, siku fleksi hilangKetergantungan ADL tinggi
T1-T4Tangan, interkostalSyok neurogenik, bradikardia
T6 ke atasOtot abdomen, vasomotorRisiko autonomic dysreflexia
L1-L2Fleksi hipKontrol kandung kemih terganggu
  • Syok Neurogenik: hipotensi ditambah bradikardia (berbeda dari syok hemoragik yang takikardia). Terapi: cairan ditambah vasopressor (norepinefrin atau fenilefrin). Target MAP 85-90 mmHg selama 7 hari untuk proteksi cord.
  • Metilprednisolon tidak lagi direkomendasikan rutin pada SCI akut karena tidak ada bukti manfaat klinis bermakna dan risiko infeksi meningkat.
  • SCIWORA: defisit neurologi tanpa abnormalitas imaging. MRI wajib untuk deteksi.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; EAST Spinal Cord Injury Guidelines 2023

Mekanisme Trauma Kinetik — Energi Tinggi, Cedera Dalam Masif

Luka luar kecil tidak menjamin cedera dalam minimal

Prinsip Fisika Trauma: Energi kinetik = setengah dikali massa dikali kuadrat kecepatan. Kecepatan sangat mempengaruhi energi. Peluru kecepatan tinggi membawa energi jauh lebih besar dari luka tikam.
MekanismePola Cedera KhasYang Tidak Boleh Terlewat
Tabrakan kendaraan kecepatan tinggiFraktur sternum, aorta traumatik, fraktur pelvisCT toraks kontras untuk aortic injury
Jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meterFraktur calcaneus, vertebra, pergelanganCT spine, pelvis, CT head
Crush injuryRhabdomyolisis, kompartemen, pelvis hancurCK, mioglobin urin, forced diuresis
Blast injury (ledakan)Barotrauma (PTX, ruptur usus, TM pecah)Fase primer (tekanan), sekunder (fragmen), tersier (terlempar)
Luka tembakKavitasi permanen dan temporerJangan probe luka. CT untuk track peluru.
  • Traumatic Aortic Injury: paling sering di isthmus (ligamentum arteriosum). Curiga bila widened mediastinum, fraktur iga 1-2, hemothorax kiri, atau deviasi trakea kanan. CT angiografi toraks adalah gold standard.
  • Rhabdomyolisis: CK lebih dari 5000 U/L ditambah mioglobinuria. Lakukan aggressive fluid resuscitation dengan target urin 1-2 mL/kg/jam hingga urin jernih.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; TCCC Guidelines 2023; EAST Blast Injury Guidelines

Trauma pada Ibu Hamil — Dua Pasien, Satu Kejadian

Resusitasi ibu optimal adalah resusitasi janin terbaik

Prinsip Utama: Stabilisasi ibu DULU. Jangan tunda intervensi yang diindikasikan karena kekhawatiran terhadap janin.
  • Volume darah meningkat 40-50% saat hamil, sehingga ibu bisa kehilangan 30% volume sebelum menunjukkan tanda syok.
  • HR meningkat 15-20 bpm secara fisiologis selama kehamilan (takikardia bisa normal).
  • Uterus besar menekan vena cava inferior saat terlentang dan menyebabkan supine hypotension syndrome.
  • Posisi: Left lateral tilt 15-30 derajat atau manual uterine displacement ke kiri untuk cegah supine hypotension.
  • IV line: pasang di ekstremitas atas karena kompresi vena cava dapat mengurangi drainase dari bawah.
  • Monitoring janin (CTG): mulai segera setelah usia gestasi lebih dari 24 minggu. Deselerasi atau bradikardi janin adalah tanda awal hipoperfusi ibu.
  • Solusio plasenta: komplikasi terbanyak trauma pada kehamilan. Bisa terjadi meski trauma minor. Tanda: CTG abnormal, nyeri uterus, perdarahan vaginal.
  • Perimortem Caesarean Section (PMCS): lakukan bila cardiac arrest pada usia gestasi 20 minggu atau lebih. Mulai dalam 4 menit arrest untuk mencapai bayi dalam 5 menit. Bertujuan menyelamatkan ibu (menghilangkan kompresi aorta) DAN bayi.
  • Rh-negatif pada ibu ditambah trauma abdomen maka berikan anti-D immunoglobulin dalam 72 jam.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; ACOG Trauma in Pregnancy Guidelines 2023

Jangan Percaya Nadi Normal — Kompensasi Fisiologis Menipu

Pasien muda bisa mempertahankan hemodinamik sampai kolaps mendadak

Cliffdrop Phenomenon: Pasien muda kehilangan 30% volume darah namun TD masih normal, lalu tiba-tiba kolaps mendadak bila kompensasi habis.
  • Muda, sehat, dan atletis berarti kapasitas kompensasi kardiovaskular tinggi. TD normal tidak berarti tidak syok.
  • Tanda halus syok kelas II-III: takikardia ringan, anxiety, pulse pressure menyempit, urin output turun, capillary refill lebih dari 2 detik, ekstremitas dingin.
  • Shock Index (SI) = HR dibagi SBP:
    • SI lebih dari 0.9 = syok signifikan
    • SI lebih dari 1.4 = mortalitas sangat tinggi, pertimbangkan MTP
  • Base deficit dan laktat: laktat 4 mmol/L atau lebih, atau base deficit -6 atau kurang, berarti syok tersembunyi meski hemodinamik terlihat stabil.
  • Pasien lansia, pemakai beta-blocker, atau pacemaker: HR tidak naik meski syok berat.
IndikatorNilai NormalCuriga Syok
HRkurang dari 100100 atau lebih (atau terlalu rendah pada lansia atau beta-blocker)
Shock Indexkurang dari 0.90.9 atau lebih
Laktatkurang dari 2 mmol/L4 mmol/L atau lebih
Base deficit0 plus minus 2-6 atau kurang
Urin outputlebih dari 0.5 mL/kg/jamkurang dari 0.5 mL/kg/jam
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; EAST Hemorrhagic Shock Guidelines 2023

Trauma Mekanisme Berat — Observasi Ketat, Jangan Pulangkan Dini

Cedera tertunda bisa muncul 6-24 jam setelah kejadian

Prinsip: Mekanisme trauma berat membutuhkan observasi minimal 6 jam meski pemeriksaan awal normal.
  • Mekanisme yang wajib observasi: tabrakan kecepatan lebih dari 60 km/jam, ejeksi dari kendaraan, kematian penumpang lain, rollover, jatuh lebih dari 3 meter, pedestrian tertabrak.
  • Delayed splenic rupture: bisa terjadi 48-72 jam setelah trauma. Pasien tampak stabil di IGD lalu kolaps di rumah. Rawat untuk observasi bila curiga.
  • FAST serial: ulangi 4-6 jam kemudian bila mekanisme berat dan FAST awal negatif.
  • Indikasi CT abdomen: mekanisme berat ditambah nyeri abdomen ditambah ketidakpastian klinis. Tidak perlu menunggu perburukan.
KondisiMinimum ObservasiKriteria Pulang Aman
Trauma kepala ringan (GCS 13-15)4-6 jamGCS stabil, CT normal, ada yang menemani
Trauma tumpul abdomen6-12 jamFAST serial negatif, tidak ada nyeri progresif
Mekanisme very high energy24 jam rawatEvaluasi lengkap, imaging selesai
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; EAST Discharge Criteria Trauma 2023

Kristaloid Tidak Menghentikan Perdarahan Aktif

Resusitasi darah dan kontrol bedah adalah satu-satunya solusi

Konsep Inti: Kristaloid berlebih pada perdarahan aktif menyebabkan dilusi koagulopati, hipotermia, dan edema jaringan yang disebut vicious cycle of resuscitation.
  • Batas kristaloid awal: maksimal 1 L pada trauma dewasa (ATLS 11). Lebih dari itu maka transisi ke produk darah.
  • Damage Control Surgery (DCS): bukan operasi definitif. Tujuan adalah kontrol perdarahan dan kontaminasi secepat mungkin. Abdomen ditutup sementara (temporary abdominal closure). Operasi definitif dilakukan setelah ICU stabilisasi.
  • Indikasi DCS: pH kurang dari 7.2, suhu kurang dari 35 derajat C, INR lebih dari 1.5, transfusi lebih dari 10 unit RBC, atau injury severity terlalu besar untuk operasi definitif satu tahap.
  • Damage Control Orthopedics (DCO): fiksasi eksternal sementara pada fraktur besar (femur, pelvis). Konversi ke internal fixation setelah kondisi stabil.
  • Cairan kristaloid masih diperlukan sebagai bridging awal, bukan terapi definitif perdarahan masif.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; WSES Damage Control Surgery Guidelines 2023

Stabilisasi Minimal, Lalu Evakuasi — Scoop and Run

Jangan delay transport untuk intervensi yang bisa dilakukan di rumah sakit

Prinsip Scoop and Run: Pasien trauma berat dengan perdarahan aktif memerlukan minimal interventions di lapangan dan segera transport ke trauma center.
  • Yang boleh dilakukan di lapangan atau pre-hospital: Tourniquet, pelvic binder, airway positioning, suplemen oksigen, IV line en route, spinal motion restriction bila indikasi.
  • Yang tidak boleh delay transport: fluid resuscitation masif, intubasi yang sulit (kecuali airway tidak aman), diagnostik.
  • Golden Period: kurang dari 60 menit dari cedera ke ruang operasi pada trauma berat adalah target optimal.
  • MIST Handover:
    • Mechanism: mekanisme kejadian
    • Injuries: cedera yang ditemukan atau dicurigai
    • Signs: tanda vital saat ini dan tren
    • Treatment: intervensi yang sudah diberikan
  • Aktivasi trauma team sebelum pasien tiba. Persiapkan ruang resusitasi, darah, OR, dan imaging.
  • Dokumentasi waktu: waktu cedera, waktu tiba, waktu intervensi kunci.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; TCCC Guidelines 2023; EAST Prehospital Trauma Care Guidelines

Mass Casualty Incident (MCI) — Triage Selamatkan Sebanyak Mungkin

Prinsip utilitarian: sumber daya untuk yang paling mungkin diselamatkan

MCI: Jumlah korban melebihi kapasitas sumber daya yang tersedia. Prinsip berubah dari satu pasien terbaik menjadi sebanyak mungkin diselamatkan.
Kategori STARTLabelKriteriaPrioritas
ImmediateMerahRR lebih dari 30 atau tidak napas setelah buka airway, CRT lebih dari 2 detik, tidak mengikuti perintahPrioritas 1, tangani pertama
DelayedKuningTanda vital stabil, bisa tungguPrioritas 2
MinorHijauWalking wounded, bisa berjalan, cedera ringanPrioritas 3
ExpectantHitamTidak napas meski airway dibuka, atau cedera tidak survivable dengan sumber daya yang adaTidak diprioritaskan
  • Secondary triage (SALT): Sort, Assess, Life-saving interventions, Treatment/Transport. Lebih komprehensif dari START untuk phase lanjutan.
  • Lakukan reassessment berkala karena kondisi pasien berubah dan triage bisa direvisi.
  • Komunikasi MCI: segera aktivasi incident command, hubungi RS penerima, koordinasi dengan BPBD atau Basarnas.
  • Expectant category: keputusan etis yang sulit namun krusial agar sumber daya tidak terhabiskan untuk satu pasien dengan prognosis buruk.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; SALT Triage Protocol 2023; TCCC MCI Guidelines

Komunikasi Krisis — Pasien Tidak Sadar, Keluarga dalam Shock

Sampaikan fakta, beri ruang, dan jaga harapan yang realistis

Prinsip: Keluarga dalam shock psikologis. Informasi yang padat tidak akan diserap. Sampaikan sedikit, jelas, dan berulang bila perlu.
  • Perkenalkan diri dengan nama dan peran sebelum menyampaikan berita buruk.
  • Tanyakan siapa yang paling dekat dengan pasien dan bicara ke satu orang sebagai representatif keluarga.
  • Sampaikan kondisi saat ini dengan bahasa sederhana: "Kondisi beliau sekarang sangat kritis karena..."
  • Jelaskan apa yang sedang dikerjakan tim: "Kami sedang menangani perdarahan dan menstabilkan napas beliau."
  • Hindari angka prognosis spesifik bila tidak ada data.
  • Informed consent emergensi: bila pasien tidak sadar dan keluarga tidak ada maka presumed consent berlaku. Catat di rekam medis.
  • Bila kondisi buruk: siapkan keluarga bertahap. Jangan informasi terlalu rinci sekaligus.
  • Update berkala setiap 30-60 menit. Keluarga yang tidak di-update akan cemas dan bisa menjadi konfrontasional.
Referensi: IDI/KKI Communication Guidelines; ATLS 11th Edition 2023 Family Communication

Timeline adalah Segalanya — Dokumentasi Waktu Kritis Trauma

Setiap menit yang tercatat menyelamatkan nyawa dan melindungi tenaga medis

Prinsip: Waktu dalam trauma bukan hanya klinis, ini juga medikolegal. Dokumentasikan waktu setiap intervensi kritis.
Waktu KritisTarget / Batas
TXA (Tranexamic Acid)Diberikan kurang dari 3 jam sejak cedera. Setelah itu tidak efektif.
Needle decompressionSegera saat diagnosis klinis tension PTX. Jangan tunggu imaging.
Door to OR (trauma berat)Kurang dari 60 menit dari tiba IGD
Tourniquet timeCatat jam pemasangan. Lebih dari 2 jam risiko reperfusion injury. Lebih dari 6 jam risiko amputasi.
CT scan aktivasiKurang dari 30 menit dari tiba untuk trauma berat (Trauma Bay protocol)
Perimortem C-sectionMulai dalam 4 menit dari maternal arrest
  • Gunakan format stiker trauma atau form resusitasi terstandar. Jangan dokumentasi dari ingatan setelah selesai.
  • Catat nama petugas yang melakukan setiap tindakan untuk rekam medis dan audit mutu.
  • Trauma team roles: 1 leader, 1 airway, 1 IV/circulation, 1 assessment, 1 scribe. Tanpa scribe maka dokumentasi pasti buruk.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; IDI Rekam Medis Guidelines; EAST Quality Improvement Trauma 2023

Mereka Takut, Bukan Marah — Agitasi Pasien Trauma sebagai Sinyal

Agitasi bisa tanda hipoksia atau nyeri, bukan hanya emosi

Penting: Sebelum melabel pasien tidak kooperatif, singkirkan dulu penyebab organik: hipoksia, hipoglikemia, nyeri tidak terkontrol, intoksikasi, TBI.
  • Pendekatan psikologis pada pasien trauma:
    • Acknowledge: "Saya tahu ini sangat berat untuk Anda."
    • Be present: jangan meninggalkan pasien sendirian bila memungkinkan.
    • Calm and slow: bicara pelan, nada rendah, kontak mata.
    • Direct: berikan instruksi singkat dan jelas karena otak dalam shock tidak bisa proses instruksi kompleks.
  • Penyebab organik agitasi yang harus disingkirkan: SpO2 rendah, GDS rendah, nyeri VAS lebih dari 7, retensi urin, intoksikasi alkohol atau obat.
  • Analgetik adekuat sedini mungkin. Nyeri tidak terkontrol meningkatkan agitasi, stres fisiologis, dan koagulopati.
  • Bila perlu sedasi untuk prosedur: ketamine 1-2 mg/kg IV adalah pilihan aman pada trauma (analgesi ditambah sedasi, mempertahankan airway reflex dan hemodinamik).
  • Jangan restraint fisik sebagai respons pertama karena dapat mengeskalasi konflik dan menambah cedera.
Referensi: ATLS 11th Edition 2023; IDI/KKI Communication Guidelines; WHO Mental Health Emergency Care 2022

Paparan Trauma Berulang — Secondary Traumatic Stress & Burnout

Tenaga medis trauma berisiko tinggi compassion fatigue

Secondary Traumatic Stress (STS): Gejala PTSD yang berkembang pada tenaga medis akibat paparan berulang terhadap penderitaan pasien. Ini bukan kelemahan, ini risiko pekerjaan.
  • Gejala STS: mimpi buruk tentang kasus, menghindari kasus serupa, mati rasa emosional, hipervijilan, sulit tidur, mudah marah, kehilangan makna pekerjaan.
  • Compassion Fatigue: berkurangnya kapasitas empati akibat paparan traumatik kronis. Berbeda dari burnout biasa yang lebih terkait beban kerja.
StrategiPraktis
Defusing dan debriefingDiskusi tim informal setelah kasus berat, 20-30 menit. Bukan evaluasi klinis tapi validasi emosional.
Rotasi tugasJangan tempatkan satu tenaga medis di trauma terus-menerus tanpa jeda.
Peer supportTeman sejawat yang terlatih sebagai pendengar aktif, lebih efektif dari konseling formal.
Batas yang sehatDetachment yang sehat berbeda dari ketidakpedulian. Latih kemampuan melepas kasus di akhir shift.
Self-care fisikTidur, makan, olahraga. Ketiganya tidak bisa disubstitusi oleh resilience mental.
  • Institusi wajib menyediakan akses psikolog atau psikiater untuk tenaga medis IGD/trauma, bukan opsional.
  • Tanda bahaya: substansi abuse, isolasi sosial, pikiran menyakiti diri sendiri maka rujuk segera ke layanan kesehatan jiwa.
Referensi: WHO Mental Health at Work 2022; IDI Wellness Guidelines; EAST Surgeon Wellness Position Statement 2023
id="tab-coverage" class="section">
Progress Konten dari Buku

Ringkasan Coverage

80 chapter total dari 3 volume

Vol 1 — Dewasa (32 chapter)21 / 32 = 66%
Vol 2 — Pediatrik (25 chapter)16 / 25 = 64%
Vol 3 — Trauma (23 chapter)19 / 23 = 83%
Total keseluruhan56 / 80 = 70%
MVP ini mencakup chapter klinis kritis (most life-threatening) — bukan bab komunikasi, konsul, dan burnout. Chapter medis murni yang dicover: 12 dari 48 = 25% chapter klinis.
Vol 1 — Dewasa (32 Chapter)

Status per Chapter

✅ Live · 🔲 Pending · 💬 Non-klinis

#JudulStatus
1ABCDE — Mulai dari A✅ Live
2Sick vs Not Sick✅ Live
3Vital Sign — Tren bukan Angka✅ Live
4Bertindak Sambil Berpikir✅ Live
5Red Flags Lintas Sistem✅ Live
6Sesak Napas✅ Live
7Nyeri Dada✅ Live
8Pasien Tidak Sadar — GDS Dulu✅ Live
9Syok — 4 Tipe✅ Live
10Kejang — Status Epileptikus✅ Live (flowchart)
11Aritmia✅ Live
12Nyeri Kepala — SNOOP4✅ Live
13Sepsis — Hour-1 Bundle✅ Live
14Anafilaksis✅ Live
15Hipertensi Emergensi✅ Live
16Abdomen Akut✅ Live
17Perdarahan GI✅ Live
18Keracunan — Toksidrom✅ Live
19Stroke✅ Live
20Code Blue / ACLS✅ Live
21Code Blue Sendirian✅ Live
22Pasien Hamil di IGD✅ Live
23Lansia di IGD✅ Live
24–32Konsul · ICU · Rujukan · Rekam Medis · Burnout💬 Non-klinis
Vol 2 — Pediatrik (25 Chapter)

Status per Chapter — Pediatrik

3 live · 22 pending/non-klinis

#JudulStatus
1Cliff Phenomenon — Framework Pediatri✅ Live (konsep)
2Membaca Anak Sakit dari Pintu✅ Live
3ABCDE Pediatrik✅ Live
4Vital Sign Anak per Usia✅ Live
5Dosis per kgBB✅ Live
6Demam — Kapan Berbahaya✅ Live
7Kejang Demam✅ Live
8Sesak Anak (Croup/Bronkiolitis/Asma/Epiglotitis)✅ Live
9Syok pada Anak✅ Live
10Dehidrasi — Pembunuh Diam✅ Live
11Anak Tidak Sadar — GDS Dulu✅ Live
12Abdomen Anak✅ Live
13Anafilaksis Anak✅ Live
14Neonatus di IGD✅ Live
15Child Abuse — Luka Tersembunyi✅ Live
16Henti Jantung Anak — PALS✅ Live
17Airway Anak✅ Live
18–25Boleh Pulang · PICU · Rujukan · Komunikasi💬 Non-klinis
Vol 3 — Trauma (23 Chapter)

Status per Chapter — Trauma

3 live · 20 pending/non-klinis

#JudulStatus
1xABCDE — ATLS 11✅ Live
2Compensated Shock — Tampak Baik✅ Live
3Respons terhadap Cairan✅ Live
4Damage Control Surgery✅ Live
5Cedera Tersembunyi — Red Flags✅ Live
6Trauma Thorax — 6 Life Threats✅ Live
7GCS Turun — TBI✅ Live
8Trauma Abdomen — Hidden Bleeding✅ Live
9Trauma Pelvis✅ Live
10Compartment Syndrome — 5P✅ Live
11Luka Bakar — Parkland Formula✅ Live
12Trauma Kepala✅ Live
13Trauma Tulang Belakang✅ Live
14Trauma pada Ibu Hamil✅ Live
15Trauma Lansia✅ Live
16Mekanisme Berat✅ Live
17Damage Control Resuscitation✅ Live
18Stabilisasi + Rujukan Trauma✅ Live
19–23Komunikasi · Triase Massal · Burnout💬 Non-klinis
Latihan Kasus — 8 Soal

Kalkulator Dosis Obat Kritis

Kalkulasi otomatis berdasarkan berat badan pasien

kg
1 kg 100 kg
Obat Dosis/kgBB Dosis Hitung Volume / Ket. Status

* Volume dihitung berdasarkan sediaan lazim. Verifikasi selalu dengan sediaan yang tersedia di unit.